Dari Riset ke UMKM

Dari Riset ke UMKM
PERKUAT PRODUKTIVITAS: Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza mendorong hasil riset dan produk teknologi BRIN dapat dihilirisasi untuk memperkuat produktivitas.(ANTARA/RIADI GUNAWAN)

INILAH, Lampung - Sebuah riset tidak semestinya berhenti di ruang laboratorium. Pengetahuan dan teknologi yang lahir dari penelitian baru menemukan maknanya ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberi perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perubahan itu bisa berarti banyak hal. Produksi yang lebih efisien, kemasan yang lebih baik, pemasaran yang lebih luas, hingga produk yang memiliki nilai tambah.

Anggota Komisi X DPR RI Dapil Lampung I Rycko Menoza mendorong agar hasil riset dan produk teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dapat dihilirisasi untuk memperkuat produktivitas dan daya saing UMKM.

“Teknologi dan hasil riset harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama pelaku UMKM. Dengan inovasi yang tepat, produktivitas dan daya saing UMKM dapat terus ditingkatkan,” kata Rycko Menoza saat dikonfirmasi di Lampung Selatan, seperti dikutip dari ANTARA, Sabtu (19/9).

Menurut dia, pemanfaatan hasil riset BRIN dapat membuka ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal untuk mengembangkan inovasi yang lebih aplikatif. Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus membantu pelaku usaha memperluas akses pemasaran.

Di titik inilah hubungan antara dunia riset dan sektor riil menjadi penting. Penelitian tidak hanya menghasilkan laporan atau temuan akademik. Hasilnya diharapkan dapat bergerak lebih jauh, masuk ke ruang produksi, bertemu dengan kebutuhan pelaku usaha, kemudian memberi nilai tambah bagi produk yang dihasilkan.

“Riset, teknologi, dan inovasi penting untuk masyarakat produktif dan UMKM naik kelas,” ucap dia.

Namun, perjalanan dari hasil penelitian menuju produk yang siap digunakan tidak selalu sederhana. Dibutuhkan jembatan yang menghubungkan peneliti, pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha.

Karena itu, Rycko mendorong para pemangku kepentingan di daerah memperkuat hilirisasi hasil riset melalui pendampingan kepada UMKM.

Pendampingan itu dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kebutuhan usaha, seperti peningkatan kualitas kemasan, standardisasi produk, penerapan teknologi produksi, hingga efisiensi rantai pasok.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat teknis. Namun bagi UMKM, peningkatan pada setiap mata rantai produksi dapat menentukan nilai sebuah produk ketika berhadapan dengan pasar.(gin)


Editor : Inilahkoran