Jangan Diam Hadapi Krisis
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Mataram - iklim tidak selalu datang dalam bentuk bencana besar. Ia bisa hadir perlahan, melalui suhu yang semakin panas, perubahan ekosistem, hingga persoalan sampah yang mengendap di aliran sungai.
Perubahan itu pada akhirnya bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, menjaga lingkungan tidak cukup hanya diserahkan kepada pemerintah atau kelompok tertentu. Masyarakat juga memiliki ruang untuk ikut menentukan bagaimana lingkungan dijaga dan bagaimana kebijakan dibuat.
Akademisi Universitas Mataram (Unram) Junaidi mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian sekaligus terlibat aktif dalam menghadapi dampak krisis iklim.
"Setiap kita punya tanggung jawab, tapi tanggung jawab paling besarnya adalah untuk tidak menjadi apatis dan mendorong kebijakan," ucap dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut di Mataram, NTB, seperti dikutip dari ANTARA, Sabtu (19/9).
Menurut Junaidi, keterlibatan masyarakat tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang sama. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kapasitas dan ruang yang dimilikinya.
Di lingkungan pendidikan, misalnya, mahasiswa dapat mendorong kampus menerapkan sistem keberlanjutan. Kampus juga dapat memperluas pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan sehingga kepedulian tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari keseharian.
Sementara bagi masyarakat umum, ruang partisipasi dapat dibangun melalui advokasi kepada pemerintah. Suara masyarakat dibutuhkan untuk menyampaikan persoalan lingkungan yang langsung dirasakan di lapangan.
Salah satunya adalah persoalan sampah di sekitar sungai. Junaidi menilai kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas pengelolaan sampah perlu disuarakan agar sungai tidak terus menjadi tempat pembuangan. Persoalan yang terlihat sederhana itu sesungguhnya berkaitan dengan persoalan lingkungan yang lebih luas. (gin)
Editor : Inilahkoran

