Mandiri Sejak Dini
KEMANDIRIAN anak tumbuh dari kebiasaan sederhana. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga dari rumah, lingkungan, dan ruang digital.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kesuksesan seorang anak tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Jauh sebelum mengenal pelajaran dan buku, ada kebiasaan-kebiasaan kecil di rumah yang perlahan membentuk cara seorang anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, menyeterika, atau sekadar membantu membersihkan rumah mungkin tampak sederhana. Namun dari kebiasaan itulah mentalitas dan kemandirian anak mulai tumbuh.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari Gerakan Mandiri Anak Situbondo (Gemas), sebuah inovasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Gerakan itu diluncurkan Direktur Jenderal PAUD, Dikdas dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Gogot Suharwoto di Gelora Situbondo, Sabtu.
Peluncuran Gemas menjadi bagian dari Festival Edukasi (EduFest) Gemas. Bagi Gogot, apa yang dilakukan Situbondo menunjukkan bahwa pendidikan anak dapat dibangun dari berbagai ruang, tidak hanya dari sekolah.
"Kami apresiasi kepada Pak Bupati Situbondo yang telah menyiapkan kegiatan Festival Edukasi (EduFest) Gemas, dan ini jarang sekali digelar di tempat lain, menurut kami ini merupakan salah satu yang terbaik yang pernah saya datangi di Indonesia," kata Gogot seusai peluncuran Gemas, seperti dikutip dari ANTARA.
Gemas memadukan empat ruang pendidikan sekaligus: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media digital. Keempatnya dipandang sebagai lingkungan yang saling melengkapi dalam membentuk anak. Di sekolah, anak mendapatkan pengetahuan.
Di rumah, mereka belajar menjalankan tanggung jawab. Di masyarakat, mereka berinteraksi dan belajar mengambil peran. Sementara ruang digital menjadi bagian dari dunia belajar yang tidak lagi dapat dipisahkan dari kehidupan anak.
Menurut Gogot, pendekatan tersebut telah diterapkan di lembaga pendidikan di Situbondo, mulai dari PAUD, sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama (SMP).
"Di sekolah belajar dan di rumah juga ada kegiatan kemandirian keseharian, di masyarakat juga melalui kegiatan-kegiatan yang lain, sedangkan media digital juga sudah disiapkan melalui gerakan Gesit Ber-PID, jadi empat-empatnya sudah terpenuhi," kata Gogot.
Perkembangan teknologi pun ikut menjadi bagian dari gerakan tersebut. Situbondo telah memanfaatkan papan interaktif digital di sekolah-sekolah, mulai TK, SD hingga SMP, meski penerapannya memiliki batasan usia. Gogot menekankan penggunaan perangkat digital perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
"Hanya ada TK atau KB yang muridnya berusia 5-6 tahun, dan kami tidak mendorong untuk yang terlalu kecil karena berisiko, nanti akan mengganggu konsentrasi. Jadi jangan salah paham, ini untuk hanya anak yang minimal 5-6 tahun," katanya.
Bagi Gogot, digitalisasi pendidikan juga tidak berhenti pada penyediaan perangkat. Guru dan sekolah perlu memiliki kemampuan untuk membuat serta memanfaatkan konten pembelajaran.
Situbondo bahkan mencatat capaian melalui program Gesit Ber-PID dengan menghasilkan lebih dari 6.000 konten.
"Ini luar biasa dukungan Pak Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan juga. Papan interaktif digital dari Kemendikdasmen bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk pembelajaran," kata Gogot. (gin)
Editor : Inilahkoran

