Dari Riset Menuju Sehat Berkelanjutan
RISET farmasi terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Kolaborasi menjadi kunci menghadirkan inovasi yang bermanfaat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Inovasi obat dan pangan tidak cukup berhenti di laboratorium perguruan tinggi. Hasil penelitian perlu menemukan jalan menuju industri agar dapat dikembangkan menjadi produk yang aman, bermutu, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan hal tersebut. Ketiganya memiliki peran berbeda, tetapi saling membutuhkan dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan sekaligus memastikan hasil inovasi dapat diterapkan secara luas.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Taruna Ikrar menekankan pentingnya sinergi tersebut saat menyampaikan materi bertajuk “Advancing Pharma and Food Innovation for a Healthier and Sustainable Indonesia” dalam The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) di Bale Rumawat, Unpad Kampus Dipati Ukur, Bandung, Rabu (21/10).
Seminar yang digelar secara hibrida itu mengangkat tema “Advancing Pharmaceutical Sciences through Sustainability and Translational Innovation”. Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya pengembangan ilmu farmasi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Perguruan tinggi merupakan tempat lahirnya inovasi. Industri membutuhkan inovasi dari akademisi, sementara akademisi juga membutuhkan dukungan industri. Selain itu, tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri,” jelas Taruna dalam keterangan persnya.
Menurutnya, pendekatan Academia, Business, and Government (ABG) dapat memperkuat hubungan antara dunia penelitian, sektor industri, dan pemerintah. Perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan ilmiah, industri mendukung pengembangan serta produksi, sedangkan pemerintah berperan menjembatani kolaborasi sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi.
Sinergi tersebut semakin penting ketika perkembangan teknologi farmasi berlangsung cepat. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), misalnya, membuka peluang baru dalam pengembangan kandidat obat.
Namun, kemajuan teknologi tetap harus diikuti kesiapan pengujian, standardisasi, dan regulasi agar produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat. (gin)
Editor : Inilahkoran
