Daya Beli Anjlok, Pasar Baru Kota Bandung Kehilangan 70 Persen Pengunjung
Aktivitas perdagangan di Pasar Baru Bandung terus melemah seiring merosotnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan, bahkan mencapai 60 hingga 70 persen jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pandemi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Aktivitas perdagangan di pasar baru Bandung terus melemah seiring merosotnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan, bahkan mencapai 60 hingga 70 persen jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pandemi.
Ketua Himpunan Pedagang pasar baru Bandung (HP2B), Iwan Suhermawan mengatakan, kondisi ekonomi secara nasional turut memengaruhi situasi di lapangan. Selain daya beli yang melemah, persaingan dengan platform perdagangan online menjadi tantangan besar bagi pedagang konvensional.
"Kita juga menyadari kondisi keuangan negara sedang tidak baik-baik saja. Belum lagi tantangan dari e-commerce yang semakin kuat. Dua faktor ini membuat pasar tradisional semakin terpukul," kata Iwan Suhermawan, Jumat 12 September 2025.
Ia menyebut, pasar baru selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan luar kota bahkan mancanegara. Ia mencatat sekitar 80 persen pengunjung pasar baru berasal dari luar kota bandung, termasuk dari luar pulau dan luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, aksi massa dan situasi politik nasional yang memanas turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan calon pengunjung. Akibatnya, jumlah wisatawan yang datang ke pasar baru mengalami penurunan signifikan.
"pasar baru ini pasar wisata belanja. Kalau situasi negara tidak stabil, otomatis orang-orang jadi takut bepergian, apalagi dari luar kota. Itu yang sangat memengaruhi," ucapnya.
Menurut ia, saat ini pasar baru memiliki sekitar 4.200 ruang dagang dengan tingkat keterisian mencapai 65 persen. Meski masih tergolong tinggi dibandingkan pusat perbelanjaan lain di kota bandung, kondisi tersebut tetap menunjukkan tren penurunan.
Sebagai perbandingan, Iwan menyebut tingkat okupansi di pusat grosir lain seperti ITC hanya sekitar 15 persen, sementara Pasar Kosambi hanya 10 persen. Bahkan Tanah Abang di Jakarta pun hanya terisi sekitar 40 persen.
"Dulu saat long weekend, pengunjung membludak. Sekarang long weekend pun terasa biasa saja. Ini jelas mengkhawatirkan bagi pedagang," ujar dia.
Di tengah tekanan tersebut, HP2B menyambut baik rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk mereaktivasi Bandara Husein Sastranegara. Iwan berharap, hal ini dapat memudahkan akses wisatawan mancanegara ke kota bandung dan mendorong pemulihan ekonomi lokal.
Selain masalah kunjungan, ia juga menyoroti kebijakan operasional yang dinilai belum berpihak pada pedagang. Ia menyebut, sejumlah aturan baru justru menyulitkan pelaku usaha dalam menjaga keberlangsungan usahanya.
"pengunjung ada, tapi tidak sebanding dengan biaya operasional. Untuk menggaji karyawan saja sudah berat. Banyak yang bertahan hanya karena tidak punya pilihan lain," tandasnya. *
Editor : Ahmad Sayuti


