Dedi Mulyadi Dorong Revolusi Infrastruktur Kota, Kabel Semrawut Ditarget Masuk Tanah
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menyiapkan transformasi besar dalam penataan utilitas perkotaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menyiapkan transformasi besar dalam penataan utilitas perkotaan. Salah satu fokus utamanya adalah mengakhiri keberadaan kabel udara, yang selama ini memenuhi ruang publik dan dinilai merusak wajah kota, terutama di kawasan perkotaan seperti Bandung.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan, program penataan kabel udara tetap menjadi prioritas pemerintah daerah meski membutuhkan waktu dan tahapan pelaksanaan yang tidak singkat. Ia menargetkan proses penataan jaringan kabel dapat diselesaikan secara bertahap hingga 2027.
"Iya, perapihan kabel saya sudah dari dulu menargetnya pengennya 2027 selesai," ujar Dedi di Kota Bandung baru-baru ini.
Menurutnya, persoalan kabel yang menjuntai dan bertumpuk di atas jalan tidak lagi sekadar masalah estetika, melainkan bagian dari kebutuhan modernisasi infrastruktur perkotaan.
Sebab itu, Pemprov Jabar tengah menyiapkan konsep pembangunan yang mengintegrasikan proyek jalan dengan jalur utilitas bawah tanah.
Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang, untuk mengurangi kepadatan kabel di ruang udara, sekaligus menciptakan tata kota yang lebih tertib dan aman.
Guna mempercepat realisasi program, Dedi berencana mengumpulkan para pelaku industri telekomunikasi yang tergabung dalam Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel). Pertemuan itu akan membahas mekanisme penataan jaringan, serta pembagian tanggung jawab dalam pelaksanaan program.
"Minggu depan ini saya akan ngundang Apjatel. Kan bilang mereka mereka tanpa biaya, tapi menurut saya sih kalau jumlahnya banyak begini, kan harus berbiaya pada akhirnya," katanya.
Dedi menilai, besarnya volume kabel yang tersebar di berbagai wilayah membuat penataan tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan pendanaan dan kolaborasi lintas sektor. Sebab itu, pemerintah daerah dan penyelenggara jaringan harus memiliki komitmen yang sama untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih tertata.
Ia menegaskan, setiap daerah perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap jaringan kabel udara. Untuk ruas jalan provinsi yang akan dibangun atau direkonstruksi, Pemprov Jabar akan mensyaratkan pembangunan jalur kabel bawah tanah secara bersamaan.
"Prinsip dasar, setiap daerah harus secara bertahap menyelesaikan kabel tidak berserakan di atas dan saya targetkan untuk jalan Provinsi Jawa Barat, kabelnya di 2027 itu pembangunan jalannya harus bareng dengan pemasangan kabel bawah tanah," tuturnya.
Ia menilai, kondisi kabel yang semrawut sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan di sejumlah titik. Selain mengganggu pemandangan, keberadaan kabel yang menumpuk juga mencerminkan belum terintegrasinya pengelolaan utilitas publik.
Ia mencontohkan kawasan Ledeng, Kota Bandung, yang dipenuhi ribuan kabel dari berbagai penyedia layanan sehingga menciptakan kesan kumuh di ruang perkotaan.
Saat muncul kekhawatiran terkait potensi gangguan layanan internet selama proses penataan, Dedi menilai perkembangan teknologi seharusnya mampu menjawab tantangan tersebut tanpa mengorbankan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
"Ya teknologinya dong yang ditingkatkan, kayak sekarang itu coba lihat di depan Ledeng. Itu kabelnya teuing sabaraha rebu kabel mah, lieur ningali na oge," tandasnya.***
Editor : JakaPermana


