Dedi Mulyadi Minta Dukungan DPRD Jabar Perangi Begal dan Tramadol
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi meminta dukungan DPRD Jabar untuk memberantas aksi pembegalan dan menghentikan peredaran obat keras Tramadol yang merusak pemuda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meminta dukungan penuh dari DPRD Jawa Barat dalam menghadapi maraknya aksi pembegalan yang dinilainya telah menjadi ancaman serius bagi keamanan masyarakat dan masa depan generasi muda.
Dalam pandangannya, persoalan begal tidak boleh dipandang remeh maupun disederhanakan hanya sebagai persoalan ekonomi. Dedi menegaskan, negara dan masyarakat tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan jalanan untuk terus berkembang.
"Kami mohon dukungan seluruh anggota DPRD Provinsi Jawa Barat adalah persoalan kejahatan begal," kata Dedi dalam Rapat Paripurna bersama DPRD Jabar di Kota Bandung baru-baru ini.
Menurutnya, terdapat sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa fenomena begal saat ini memiliki karakteristik berbeda. Mayoritas pelaku berusia di bawah 25 tahun dan banyak yang belum memiliki tanggungan keluarga.
"Rata-rata begal saat ini umurnya di bawah 25 tahun. Secara umum banyak yang belum memiliki tanggungan keluarga, masih sangat muda-muda," ujarnya.
Dedi juga mengungkapkan, tidak semua pelaku pembegalan berasal dari Jawa Barat. Berdasarkan identitas yang ditemukan, sebagian pelaku bahkan merupakan warga dari luar daerah.
"Yang kedua, tidak juga pelakunya adalah warga Jabar. Banyak warga yang KTP-nya di luar Jabar," katanya.
Sisi lain, ia menyoroti nasib para korban pembegalan yang sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat menengah ke bawah. Selain kehilangan harta benda, mereka juga harus menanggung beban ekonomi akibat tindak kriminal tersebut.
"Kemudian yang ketiga, kita juga harus membiayai korbannya. Dan korbannya adalah kebanyakan masyarakat menengah ke bawah. Mereka sudah miskin, dibegal. Ini yang menjadi perhatian," ucap Dedi.
Tramadol Pemicu Utama Kriminalitas
Dalam kesempatan itu, Dedi secara khusus menyoroti peredaran obat keras Tramadol yang disebutnya telah menyebar masif di berbagai wilayah Jawa Barat. Ia menilai peredaran obat tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan meningkatnya kasus tawuran, penganiayaan hingga pembegalan.
"Dan begal ini salah satu penyebabnya adalah beredarnya obat Tramadol. Dan Tramadol ini yang sangat beredar masif di seluruh daerah di Jawa Barat," katanya.
Dedi bahkan mengungkapkan adanya tekanan dan ancaman terhadap aparat yang berupaya memberantas peredaran obat keras tersebut. Ia mencontohkan kasus seorang anggota kepolisian di Karawang yang rumah kontrakannya diserang setelah melakukan razia Tramadol.
"Menurut saya, tidak ada lagi toleransi, kenapa? Ini menyangkut masa depan warga Jawa Barat. Kalau anak-anak muda mengonsumsi ini dalam setiap waktu, dipastikan tawuran tidak akan berhenti, dipastikan pembegalan tidak akan berhenti, dipastikan penganiayaan sampai pembunuhan tidak akan berhenti," tegasnya.
Ia menambahkan, dampak Tramadol tidak hanya merusak kesehatan, tetapi juga memengaruhi kemampuan berpikir dan kondisi mental generasi muda.
"Memiliki efek yang sangat bahaya terhadap rusaknya daya otak dan rusaknya mental," ucapnya.
Sebab itu, Dedi mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk DPRD, aparat penegak hukum, dan warga Jawa Barat, untuk memandang persoalan ini sebagai ancaman bersama yang harus dilawan tanpa kompromi.
"Dalam sisi geopolitik, ini adalah upaya melumpuhkan generasi Jawa Barat di masa depan. Untuk itu, maka saya mengajak kepada semua, kita tidak bicara sisi politik, mari kita bicara sisi kemanusiaan, sisi kepentingan, dan sisi masa depan," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


