Desa Mekarwangi Meruwat Jagat: Ketika Tradisi Memohon Restu Semesta di Tengah Modernitas
Kabupaten Bandung Barat, yang berbatasan langsung dengan Kota Bandung, ternyata menyimpan denyut nadi tradisi yang tak lekang oleh waktu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kabupaten Bandung Barat, yang berbatasan langsung dengan Kota Bandung, ternyata menyimpan denyut nadi tradisi yang tak lekang oleh waktu.
Di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, sebuah ritual bernama ruat jagat masih digelar, menjadi oase di tengah gempuran modernitas.
Upacara ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ungkapan syukur mendalam atas karunia Tuhan dan penghormatan kepada para leluhur.
Di sebuah siang yang cerah, alunan musik tradisional mengiringi langkah para tokoh adat dan warga desa menuju tempat upacara.
Asap dupa mengepul, membawa aroma mistis yang menyatu dengan udara pegunungan Lembang yang sejuk. Ritus ruat jagat dimulai. Abah Iyus Yuswana, sesepuh desa sekaligus Ketua Lembaga Adat Mekarwangi, dengan khidmat memimpin jalannya upacara.
"Ruatan ini adalah permohonan dan rasa syukur kepada Allah SWT," tutur Abah Iyus, usai memimpin ritual pada Milangkala Desa Mekarwangi ke-42, Sabtu 13 September 2025.
Bukan hanya itu, ritual ini juga menjadi ungkapan terima kasih kepada para leluhur yang telah mewariskan adat dan budaya luhur.
Lebih dari sekadar tradisi, ruat jagat adalah pengingat akan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta.
"Kita sampaikan terima kasih juga kepada ibu pertiwi, semesta yang di dalamnya terdapat berbagai macam makhluk. Kita semua adalah satu kesatuan," lanjut Abah Iyus dengan tatapan penuh makna.
Namun, di balik khidmatnya upacara, terselip kekhawatiran. Abah Iyus mengakui bahwa tradisi ruat jagat ini perlahan mulai tergerus zaman. Generasi muda cenderung memilih hal-hal yang praktis dan instan, meninggalkan ritual yang membutuhkan persiapan rumit dengan berbagai sesaji.
Sesaji dalam ruat jagat bukanlah sekadar hiasan. Setiap elemen memiliki makna simbolis tersendiri. Kukus, menyan, bambu kuning, daun hanjuang, daun jawer kotok, pisang manggala, tebu, dan berbagai tumbuhan alam lainnya adalah representasi dari alam semesta yang dihadirkan dalam upacara.
"Zaman sekarang inginnya serba instan dan tidak ingin ribet. Padahal, dalam ruatan itu harus ada sesaji yang lengkap," keluh Abah Iyus.
Meski demikian, semangat untuk melestarikan tradisi ini tak pernah padam. Warga Desa Mekarwangi terus berupaya untuk menjaga warisan leluhur ini agar tidak punah ditelan zaman.
"Kami berharap, generasi muda dapat memahami makna mendalam dari ruat jagat dan turut serta melestarikannya," ucapnya.
Abah Iyus menambahkan, ruat jagat di Desa Mekarwangi adalah cermin dari kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya. Di tengah arus modernisasi yang deras, tradisi ini menjadi jangkar yang menghubungkan manusia dengan akar budayanya, dengan alam semesta, dan dengan Sang Pencipta.
"Semoga tradisi ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjaga warisan leluhur," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti


