Di Tengah Kekeringan Imbas El Nino, Pither Tjuandys Berikan Bantuan Sumur Bor
Musim kemarau panjang yang diperparah dampak fenomena El Nino kian menyulitkan akses air bersih bagi warga di Desa Cipada, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Musim kemarau panjang yang diperparah dampak fenomena El Nino kian menyulitkan akses air bersih bagi warga di Desa Cipada, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Selama berbulan-bulan, warga harus berjalan kaki sejauh hampir dua kilometer menuruni lereng bukit hanya untuk mendapatkan air dari mata air yang debitnya terus menyusut.
Kondisi ini kini mulai teratasi usai Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat, Pither Tjuandys meresmikan Sumur Bor baru di RT 05/RW 01, Desa Cipada, yang menjadi titik kedua di wilayah tersebut, Sabtu (22/8/2026).
Sumur Bor yang selesai dibangun dalam kurun waktu sekitar dua minggu ini merupakan respon langsung terhadap usulan masyarakat yang selama ini kesulitan air bersih saat musim kemarau.
Berbeda dengan wilayah dataran rendah yang masih memiliki akses sumur tanah, Desa Cipada secara geologis tidak memiliki air tanah yang mudah dijangkau, warga sepenuhnya bergantung pada mata air di lereng bawah yang letaknya jauh dari pemukiman.
Adanya Sumur Bor ini diharapkan mampu melayani kebutuhan air bersih bagi sekitar 26 hingga 30 kepala keluarga di sekitar lokasi, sehingga warga terutama lansia dan ibu rumah tangga tidak lagi harus berjuang menempuh perjalanan jauh setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar air.
"Saya dijadwalkan oleh Pak Agil bersama Kepala Desa dan RT untuk meresmikan Sumur Bor yang baru saja dikerjakan kurang lebih dua minggu, dari hasil usulan masyarakat," kata Pither di lokasi.
"Ini merupakan titik Sumur Bor yang kedua di RT 05 yang diusulkan oleh warga dan kini sudah terealisasi serta air sudah mengalir. Hari ini kami resmikan dan siap digunakan oleh masyarakat," ujarnya.
Rp75 Juta per Titik, Empat Sumur Bor Telah Terealisasi Tahun Ini
Pither menjelaskan, setiap titik Sumur Bor tersebut dibangun dengan anggaran sebesar Rp75 juta. Sepanjang tahun 2026, pihaknya telah menyelesaikan empat titik Sumur Bor di wilayah-wilayah yang paling terdampak Kekeringan, mencakup kawasan Parongpong, Cipadah, dan Pasirlangu.
Ia menyebut, satu titik Sumur Bor rata-rata mampu melayani kebutuhan air bagi 26 hingga 30 kepala keluarga, sehingga keberadaannya sangat membantu meringankan beban warga di tengah kemarau panjang yang berlangsung hingga empat bulan ini.
"Kalau Sumur Bor seluruhnya di tahun ini yang kita kerjakan itu ada empat titik. Satu di Parongpong, satu di Cipadah RT 5, satu lagi di RW 8 Pasirlangu, dan satu lainnya," tuturnya.
"Satu titik kita alokasikan anggaran Rp75 juta, dan rata-rata satu titik bisa melayani 26 sampai 30 kepala keluarga," ungkapnya.
Kekeringan akibat dampak El Nino tidak hanya terjadi di Desa Cipada, namun meluas ke kawasan Cibodas dan Ciroyom yang saat ini juga mengalami krisis air bersih.
Pither menegaskan, wilayah-wilayah tersebut telah masuk dalam daftar prioritas dan akan direalisasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) murni tahun berikutnya.
"Memang susah air di musim kemarau, bukan hanya di sini, hampir seluruh wilayah pegunungan mengalami hal serupa. Apalagi Cibodas dan Ciroyom saat ini sedang Kekeringan. Lokasi-lokasi tersebut sudah masuk dalam perencanaan dan akan dilaksanakan melalui anggaran murni tahun depan," bebernya.
Gotong Royong Warga Percepat Distribusi Air, Drainase Rp800 Juta Segera Dikerjakan
Setelah Sumur Bor selesai dibangun, warga secara mandiri mengumpulkan dana dan tenaga untuk memasang jaringan pipa guna mengalirkan air hingga ke rumah-rumah warga tanpa menunggu anggaran tambahan dari pemerintah. Semangat kemandirian warga ini dinilai sangat positif dan mempercepat manfaat Sumur Bor dapat dirasakan secara langsung.
"Pengerjaan penyambungan air ke rumah-rumah dilakukan secara gotong royong, menggunakan kemampuan dan dana masyarakat sendiri. Mereka berinisiatif merubah saluran supaya air bisa dialirkan langsung ke rumah. Itu murni semangat warga, tidak menggunakan APBD. Kalau ada kendala, baru kami bantu fasilitasi," ungkapnya.
Selain urusan air bersih, Pither juga mengungkapkan rencana segera merealisasikan pembangunan drainase di dua titik di Desa Cipada, yaitu di RW 04 dan RW 12, dengan total anggaran mencapai Rp800 juta.
Menurutnya, kenaikan batas nilai penunjukan langsung dari Rp200 juta menjadi Rp400 juta per pekerjaan memungkinkan penanganan saluran air dilakukan lebih tuntas dan menyeluruh.
"Dalam waktu dekat kita akan kerjakan dua drainase dengan nilai total Rp800 juta. Dulu batas penunjukan langsung hanya Rp200 juta, sekarang naik menjadi Rp400 juta per titik. Jadi dua titik masing-masing Rp400 juta, total Rp800 juta untuk menyelesaikan persoalan drainase di RW 4 dan RW 12 Desa Cipada," paparnya.
Kepala Desa Cipada, Ujang Dahria mengakui keterbatasan Dana Desa di tahun ini yang hanya mampu membangun satu ruas jalan sepanjang 330 meter di RW 12, sehingga perhatian dari anggota dewan menjadi sangat krusial untuk menutup kebutuhan infrastruktur lainnya.
Warga pun berharap perhatian terhadap akses air bersih terus berlanjut, mengingat bertambahnya penduduk dan keterbatasan sumber air alami di desa tersebut.
"Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Pither Tjuandys yang telah banyak membantu Desa Cipada, baik urusan air bersih maupun infrastruktur lainnya," kata Ujang.
"Walaupun musim kemarau sudah berlangsung empat bulan, alhamdulillah belum ada warga yang mengeluh tidak kebagian air berkat Bantuan-Bantuan yang diberikan. Semoga ke depannya semakin banyak titik yang bisa disentuh, karena Dana Desa sangat terbatas," sambungnya.***
Editor : JakaPermana

