Dinkes:Pasien TBC Bisa Sembuh, Asal Disiplin Minum Obat

Pengobatan yang disiplin dan teratur jadi salah satu cara ampuh penyakit TBC bisa sembuh

Dinkes:Pasien TBC Bisa Sembuh, Asal Disiplin Minum Obat
Ilustrasi pengobatan TBC

INILAHKORAN.ID - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian serius. Namun kabar baiknya, pasien TBC bisa sembuh jika pengobatan dijalani dengan disiplin.

Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih mengatakan, kesabaran dan kepatuhan pasien menjadi kunci keberhasilan pengobatan.

"Pasien TBC bisa sembuh. Tapi prosesnya lama, sekitar enam bulan. Kesabaran dan kepatuhan minum obat sangat penting. Jika pengobatan tidak tuntas, kuman bisa menjadi resisten dan pengobatannya menjadi lebih berat dan mahal," kata Dadan Mulyana Kosasih, Kamis 18 Februari 2026.

Ia menjelaskan, pengobatan TBC di Indonesia mengikuti panduan Kementerian Kesehatan. Saat ini, durasi minimal pengobatan adalah enam bulan dan pasien diwajibkan mengonsumsi obat setiap hari.

"Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat membuat kuman TBC kebal terhadap obat, sehingga proses penyembuhan menjadi lebih sulit," ucapnya.

Dadan juga menekankan pentingnya langkah pencegahan, terutama bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.

"Jika ada anggota keluarga yang terdiagnosis TBC, kontak serumah harus diperiksa. Jika positif, segera diobati. Jika negatif, bisa diberikan terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Pasien juga harus sadar akan penyakitnya dan memperbaiki perilaku, misalnya tidak meludah sembarangan, menutup mulut saat batuk atau memakai masker untuk mencegah penularan," ujar dia.

Dinas Kesehatan Kota Bandung pun, dikemukakan ia terus melakukan edukasi dan pengawasan terhadap pasien TBC guna memastikan pengobatan tuntas dan mencegah munculnya kasus resistensi obat. "Dengan disiplin dan dukungan keluarga, TBC bukan lagi penyakit yang menakutkan dan pasien dapat kembali menjalani aktivitas normal," tandasnya.


Editor : Ahmad Sayuti