Disdik Jabar Pastikan Program Sekolah Maung Tidak Akan Ubah Nama Sekolah
Program Sekolah Maung (Manusia Unggul) yang digagas Pemprov Jabar dipastikan tidak akan mengubah identitas sekolah negeri yang ditunjuk sebagai penyelenggara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Program Sekolah Maung (Manusia Unggul) yang digagas Pemprov Jabar dipastikan tidak akan mengubah identitas sekolah negeri yang ditunjuk sebagai penyelenggara.
Disdik Jabar menegaskan, transformasi yang diusung program tersebut bukan soal pergantian nama sekolah, melainkan pembenahan menyeluruh terhadap kualitas layanan pendidikan.
Kepala Disdik Jabar Purwanto memastikan, sekolah-sekolah yang masuk dalam program Sekolah Maung tetap mempertahankan nama resminya seperti saat ini. Status sebagai penyelenggara hanya akan menjadi penanda tambahan dalam sistem pendidikan.
“Sekolah Maung itu kan program, jadi itu namanya nanti tetap, bahwa SMA 5 itu tetap, SMA 3, kemudian SMA 1 Purwakarta, SMA 1 Garut misalnya namanya tetap seperti itu. Tapi nanti mereka akan dikasih nama, bahwa mereka adalah sekolah penyelenggara Sekolah Maung,” ujar Purwanto saat dihubungi, Minggu (17/5/2026).
Dia mencontohkan, SMAN 3 Bandung tetap menggunakan nama yang sama tanpa embel-embel baru. Menurutnya, esensi utama program berada pada reformasi pendidikan yang menyentuh aspek substansial.
“Jadi tidak diubah menjadi SMAN 3 Maung Bandung. Yang paling penting kan, transformasinya. Transformasi yang diubah itu, bukan nama. Yang diubah itu kan transformasi pada sesuatu yang substansial,” ucapnya.
Dia menjelaskan, perubahan mendasar dalam Sekolah Maung mencakup berbagai aspek penting, mulai dari mekanisme penerimaan peserta didik baru, sistem kurikulum, pola pembiayaan, tata kelola sekolah, kualitas tenaga pendidik, hingga peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.
Dengan kata lain, program ini diproyeksikan menjadi model penguatan sekolah unggulan negeri di Jawa Barat agar mampu menghadirkan kualitas pendidikan yang lebih kompetitif.
Di tengah munculnya kritik bahwa Sekolah Maung berpotensi melahirkan kesan eksklusif di sekolah negeri, Purwanto menilai pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, siswa berprestasi justru membutuhkan ruang dan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kapasitas akademiknya.
“Bahwa selama ini kita tidak menghargai perbedaan, bahwa masyarakat kita itu ada yang membutuhkan layanan-layanan yang harus mereka terima. Mereka itu kan anak-anak yang berprestasi itu harus dilayani dengan baik,” katanya.
Purwanto menilai, selama ini sebagian sekolah negeri unggulan mengalami penurunan daya tarik bagi kelompok masyarakat tertentu. Kondisi itu membuat banyak keluarga kelas menengah atas lebih memilih sekolah swasta yang dianggap memiliki kualitas layanan pendidikan lebih optimal.
“Bayangkan, sekolah-sekolah kita itu hampir tidak bisa mengimbangilah. Mereka kelas-kelas menengah yang berpunya itu banyak yang pada menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta karena mereka berbayar dan pelayanannya lebih bagus,” jelasnya.
Dia menambahkan, gagasan menghadirkan Sekolah Maung juga lahir dari aspirasi berbagai pihak, termasuk alumni, kepala sekolah, hingga masyarakat yang menginginkan sekolah negeri unggulan kembali memiliki daya saing tinggi.
Editor : Doni Ramdhani

