Orang Tua Desak Audit SPMB Sekolah Maung, Soroti Hilangnya Nama Saat Verifikasi

Transparansi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Maung mulai dipertanyakan sejumlah orang tua calon murid. 

Orang Tua Desak Audit SPMB Sekolah Maung, Soroti Hilangnya Nama Saat Verifikasi
Salah seorang wali murid melakukan aduan ke Disdik Jabar terkait pendaftaran SPMB 2026 Sekolah Maung, Selasa (9/6/2026). (yuliantono)

INILAHKORAN.ID - Transparansi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Maung mulai dipertanyakan sejumlah orang tua calon murid. 

Mereka meminta pemerintah melakukan audit terhadap hasil seleksi SPMB Sekolah Maung, khususnya pada jalur kompetensi akademik yang dinilai menyisakan banyak tanda tanya.

Sorotan muncul setelah beberapa peserta SPMB Sekolah Maung yang sebelumnya tercatat memenuhi syarat dan masuk peringkat seleksi, mendadak tidak lagi tercantum dalam daftar saat proses verifikasi akhir.

Salah satu keberatan disampaikan Nurcholis Hakim (46), warga Kota Bandung yang mendaftarkan dua anak kembarnya ke Sekolah Maung di SMAN 3 Bandung. Menurut dia, kedua anaknya sempat berada dalam daftar peserta yang lolos tahapan awal jalur akademik, namun kemudian menghilang dari sistem saat proses verifikasi berlangsung.

"Anak saya itu kembar dua. Semuanya sudah masuk peringkat. Terus terakhir verifikasi tiba-tiba hilang. Sret! Hilang data 65 orang yang diverifikasi, tiba-tiba pas saya buka nol. Hilang," ujar Nurcholis di Disdik Jabar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026).

Dia mengaku berupaya mencari penjelasan terkait perubahan status tersebut. Namun dalam sistem pendaftaran, tidak ditemukan keterangan rinci mengenai alasan pencoretan nama peserta selain informasi mengenai kekurangan nilai.

Menurut Nurcholis, proses verifikasi ulang yang dilakukan justru menimbulkan pertanyaan baru karena jumlah peserta yang tersisa berkurang signifikan.

"Terus saya kejar. Udah gitu kemudian ini, melakukan verifikasi ulang. verifikasi ulang terus muncul lagi setelah verifikasi anak saya jadi nggak ada dan cuma 32 orang akhirnya tidak diverifikasi," ucapnya.

Dia menilai, penyusutan jumlah peserta dari daftar awal perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.

"Kan pendaftar tuh 103 orang di SMAN 3 itu kemarin jalur kuota akademik. Cuma 32 orang, jadi yang anak saya tuh dihilangkan. Karena dari seratus itu tadi dihilangkan jadi setengah," katanya.

Kecurigaan semakin menguat karena berdasarkan perolehan nilai, kedua anaknya disebut berada di kelompok peserta dengan nilai kompetitif. Namun setelah meminta klarifikasi kepada pihak sekolah, ia memperoleh informasi bahwa hasil tes IQ menjadi salah satu faktor penentu kelulusan.

"Ternyata persyaratannya itu, jadi soal ada IQ yang kayak gitu. IQ, kreativitas tinggi, komitmen tinggi. Nah, saya terimalah bahwa saya nggak masuk kriteria itu karena persyaratannya itu nggak masuk akal," ujarnya.

Nurcholis secara khusus menyoroti ketentuan IQ minimal 130 yang digunakan dalam proses seleksi jalur akademik. Menurutnya, standar tersebut terlalu tinggi dan layak ditinjau kembali karena hanya dapat dicapai oleh sebagian kecil peserta.

"IQ 130 itu jenius, SMA Taruna Nusantara itu cuma 110. 130 itu jenius. Dan saya mau minta tolong 32 yang diterima itu diaudit saya bilang. Karena sangat sulit," tuturnya.

SPMB Sekolah Maung tahun ini dilaksanakan di 41 sekolah dengan tiga jalur penerimaan, yakni jalur potensi akademik sebesar 10 persen, kompetensi akademik 70 persen, serta kompetensi non-akademik 20 persen.

Pada jalur kompetensi akademik, kuota dibagi menjadi dua kelompok, yakni berbasis nilai rapor dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebesar 50 persen serta jalur prestasi akademik sebesar 20 persen.

Sementara jalur kompetensi non-akademik diperuntukkan bagi peserta yang memiliki prestasi olahraga, seni, maupun kepemimpinan. Jalur kepemimpinan mencakup mantan ketua organisasi sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR, hingga Paskibra.

Dinas Pendidikan Jawa Barat menyediakan total 18.268 kursi dalam program Sekolah Maung, terdiri dari 10.400 kursi SMA dan 7.868 kursi SMK. Jumlah tersebut diperebutkan oleh 38.476 pendaftar yang terdiri atas 24.840 calon murid SMA dan 13.636 calon murid SMK.

Tingginya angka persaingan membuat setiap tahapan seleksi menjadi sorotan publik. Berdasarkan data rekapitulasi hingga 7 Juni 2026 pukul 17.00 WIB, jalur kepemimpinan menjadi salah satu jalur dengan kompetisi yang cukup ketat.

Dari 1.264 pendaftar pada jalur tersebut, sebanyak 814 peserta dinyatakan diterima dan 450 peserta lainnya tidak lolos.
Untuk jalur Ketua OSIS, tingkat keterimaan hanya mencapai 48,3 persen atau 255 peserta dari total 528 pendaftar. 

Sementara 273 peserta lainnya harus tersingkir dalam proses seleksi. Pada jalur Pramuka Pratama, sebanyak 151 peserta diterima dari total 284 pendaftar, sedangkan 133 peserta lainnya tidak berhasil lolos.

Adapun tingkat penerimaan tertinggi terjadi pada jalur Pramuka Garuda. Dari 452 peserta yang mendaftar, sebanyak 408 orang atau 90,3 persen berhasil diterima, sementara 44 peserta lainnya tidak lolos.

Di tengah tingginya minat terhadap Sekolah Maung, tuntutan audit dan keterbukaan mekanisme seleksi kini mengemuka. Sejumlah orang tua berharap Dinas Pendidikan Jawa Barat memberikan penjelasan yang lebih rinci agar seluruh proses penerimaan murid baru dapat berlangsung transparan, akuntabel, dan bebas dari polemik.


Editor : Doni Ramdhani