Disnaker Kota Bandung Dorong Warga Bekerja ke Jepang, Subsidi Pelatihan Disiapkan

Mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja, Disnaker Kota Bandung membuka peluang bekerja ke luar negeri

Disnaker Kota Bandung Dorong Warga Bekerja ke Jepang, Subsidi Pelatihan Disiapkan
Kepala Disnaker Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana

INILAHKORAN.ID - Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung membuka peluang bagi masyarakat bekerja di luar negeri, khususnya Jepang. 

Program tersebut, menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja.

Kepala Disnaker Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana menyampaikan, sejumlah negara saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja sehingga membuka peluang bagi pekerja Indonesia. Pihaknya mencoba mengambil kesempatan tersebut, melalui kerja sama dengan lembaga pelatihan kerja (LPK) dan berbagai pihak terkait.

"Negara-negara lain itu dalam posisi kekurangan penduduk, dalam posisi kekurangan tenaga kerja. Kita mencoba mengirimkan sesuai dengan kebutuhan. Seperti Jepang kebutuhan caregiver, hospitality, hotel, manufaktur dan sebagainya," kata Yayan Ahmad Brilyana, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, pola pelatihan kini diubah agar lebih efektif. Jika sebelumnya pelatihan dilakukan langsung pemerintah dengan jumlah peserta tertentu, kini Disnaker menggandeng LPK yang memiliki kesiapan dalam menyiapkan calon tenaga kerja.

"Sekarang kerja sama dengan LPK-LPK. Jadi warga masyarakat daftar ke LPK, nanti yang sudah menandatangani siap berangkat, kita subsidi untuk pelatihannya," ucapnya.

Dia menyebut, pemerintah kota memberikan dukungan biaya pelatihan karena calon pekerja harus memenuhi berbagai persyaratan. Termasuk kemampuan bahasa Jepang minimal tingkat N5 (pemula).

"Intervensi pemerintahnya memberikan subsidi untuk pelatihannya, karena minimal bahasa Jepangnya juga harus N5," ujar dia.

Namun, biaya keberangkatan ke Jepang masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat. Total kebutuhan biaya mulai dari pelatihan, visa hingga biaya hidup awal diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

"Ke Jepang itu butuh pelatihan, butuh visa, butuh biaya hidup sebelum digaji. Total-total menurut saya sekitar 65 sampai 85 juta itu butuh anggaran," jelasnya.

Untuk membantu masyarakat yang terkendala biaya, pihaknya menyiapkan subsidi pelatihan dan mendorong kerja sama LPK dengan perbankan melalui skema kredit usaha rakyat (KUR).

"Kalau ada LPK yang memberangkatkan ke Jepang, lapor ke Disnaker. Ada anggaran sekian, 10 juta sampai 15 juta kita kasih," tutur dia.

Yayan menambahkan, pengalaman bekerja di luar negeri tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membawa manfaat berupa keterampilan, bahasa dan budaya kerja. "Pertama membawa devisa, yang kedua membawa skill, yang ketiga membawa bahasa, yang keempat membawa budaya kerja," ucapnya.

Selain pekerja umum, Disnaker juga membuka peluang bagi mahasiswa melalui kerja sama dengan perguruan tinggi. Program tersebut memungkinkan mahasiswa bekerja di Jepang sambil tetap menyelesaikan pendidikan.

Pihaknya berharap, program penempatan kerja internasional tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat Kota Bandung dalam menghadapi tantangan lapangan kerja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"Dapat dua manfaat, dia dapat devisa, dapat income, sekolahnya juga beres," tandas dia.


Editor : Ahmad Sayuti