DKPP Jabar Akui, Kohe Masih Jadi Salah Satu Sumber Limbah DAS Citarum

kotoran hewan (Kohe) masih menjadi salah satu sumber limbah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

DKPP Jabar Akui, Kohe Masih Jadi Salah Satu Sumber Limbah DAS Citarum
kotoran hewan (Kohe) masih menjadi salah satu sumber limbah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

INILAHKORAN.ID - Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat, Siti Rochani mengakui, kotoran hewan (Kohe) masih menjadi salah satu sumber limbah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Hani mengatakan, masih banyak peternak yang membuang Kohe di Citarum. Di mana persoalan ini berlangsung sejak lama dan hingga kini belum sepenuhnya tuntas.

"Dari zaman tai kotok dilebuan, sampai sekarang memang belum selesai. Itu sulit kenapa? Jawa Barat itu populasi sapinya setelah PMK itu ada di 109 ribu (ekor sapi)," ujar Hani, Kamis (28/5/2026).

Mayoritas peternak kata dia, ada di Kabupaten Bandung Barat dengan total hewan ternak sapi sekitar 22 ribu ekor. Lalu Kabupaten Bandung dan Garut.

"Kebayang kalau satu sapi mengeluarkan kotorannya kurang lebih 10 sampai 15 kilogram," ucapnya.

Ia menduga, masih ada oknum peternak membuang Kohe ke DAS Citarum karena tidak memiliki lahan luas untuk mengolah limbah tersebut, karena kandang yang bergabung dengan rumah tinggal.

Meski demikian, kondisi ini berangsur sudah dibenahi berkat kerja sama bersama para stakeholder, bagaimana mengedukasi peternak agar tak lagi membuang Kohe ke sungai.

"Dari 2025 sampai dengan triwulan 1 2026, sudah ada peningkatan. Jadi sudah ada yang dijadikan sebagai kompos, sudah ada dijadikan briket, biogas. Ada juga yang tidak dikelola. Jadi yang tidak dikelola itu masih ada sekitar 67 persen lagi," ungkapnya.

Sekitar 67 persen limbah Kohe yang tidak dikelola dan masih dibuang di DAS Citarum ini lanjut Hani, masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama agar tidak ada lagi peternak yang membuah kotoran sembarangan.

"Jadi kita sama-sama, bagaimana supaya para peternak itu tidak membuang kotoran hewannya ke kali. Jadi dengan berbagai intervensi yang ada," tandasnya.***


Editor : JakaPermana