DKPP Jabar Prediksi Terjadi Kenaikan Permintaan Hewan Jelang Idul Adha

Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jawa Barat memprediksi, terjadi kenaikan permintaan hewan kurban jelang pelaksanaan Idul Adha pada 6 Juni 2025.

DKPP Jabar Prediksi Terjadi Kenaikan Permintaan Hewan Jelang Idul Adha
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DKPP Jabar Suprijanto mengatakan, diperkirakan bakal ada kenaikan 3-5 persen permintaan hewan kurban dari tahun sebelumnya. (dok)

INILAHKORAN, Bandung - Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jawa Barat memprediksi, terjadi kenaikan permintaan hewan kurban jelang pelaksanaan Idul Adha pada 6 Juni 2025.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DKPP Jabar Suprijanto mengatakan, diperkirakan bakal ada kenaikan 3-5 persen permintaan hewan kurban dari tahun sebelumnya.

Dimana sebelumnya jumlah pemotongan hewan kurban pada 2024, yaitu sebanyak 368.267 ekor. Prediksi kenaikan itu, dipicu dari kesadaran masyarakat makin tinggi dan juga pertumbuhan ekonomi di Jabar alami tren positif.

"Kemudian juga potensi kenaikan jumlah hewan kurban saat ini yaitu keluarnya keputusan Kemenag bahwa dam haji bisa dibayar di dalam negeri," ujar Suprijanto saat dihubungi, Senin 20 Mei 2025.

Sisi lain, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi perhatian jelang Idul Adha. Sebab itu, pengawasan terus dilakukan karena mayoritas hewan kurban seperti sapi di Jabar berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dimana masuknya hewan kurban telah masuk sejak Januari-Maret 2025 lalu, untuk dipasarkan pada saat ini, momen Idul Adha.

"Namun tentunya hal itu telah melalui proses pengawasan dan penjaringan kami di daerah. Berdasarkan Permentan 17/2023, setiap lalu lintas itu melalui aplikasi. Kami lihat potensi penyakit, misalnya dari Jatim, NTB, Bali karena masih potensi tertular penyakit PMK," ucapnya.

Sejauh ini kata dia, merujuk data yang masuk melalui aplikasi Ishiknas dan vaksinasi skala nasional beberapa waktu lalu, PMK sudah dapat diminimalisir secara signifikan.

"Ternyata pertambahan kasus enggak tinggi, meskipun lalulintas dari Timur ke Barat banyak. Artinya program vaksinasi itu berhasil karena bisa menekan angka pertambahan kasus secara drastis," ucapnya.

Sepanjang Januari-Mei 2025, diperkirakan ada sekitar 300 ribuan sapi yang masuk ke Jabar. Baik dikirim ke daerah di Jabar, maupun berlanjut dikirim ke daerah lain seperti Sumatera Selatan, Bengkulu dan Sumatera Barat.

"Estimasi, karena Jawa Barat juga sebagai tempat persinggahan untuk ke Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Padang. 200-300 ribu yang masuk ke Jawa Barat," kata dia.

Meski diakuinya besar kemungkinan lebih dari itu, karena tidak sedikit juga pengirim tidak memasukkan data hewan yang akan dikirimnya ke aplikasi Ishiknas.

"Tapi saya berpendapat cukup banyak tidak melalui aplikasi. Itu baru ketahuan (jumlah) saat kita melakukan pendataan jumlah pemotongan kurban 6-9 (Juni) nanti," ujarnya.

Soal pengawasan jelang Idul Adha, Suprijanto mengaku dua pekan sebelum pemotongan pihaknya bakal meninjau kandang dan lapak jualan hewan kurban.

Tujuannya untuk memastikan hewan kurban yang dijual kepada masyarakat, layak dan aman dari penyakit.

"Untuk memastikan ternak yang dijajakan dalam kondisi sehat. Selain ke kandang, ke tempat penampungan hewan kurban," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani