DKPP Jabar Ungkap Komoditas Beras Paling Terdampak dari Fenomena El Nino
Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai menghantui sektor pertanian Jabar. Sejumlah wilayah sentra produksi padi menghadapi tekanan serius.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai menghantui sektor pertanian Jabar. Sejumlah wilayah sentra produksi padi menghadapi tekanan serius akibat berkurangnya pasokan air, bahkan berpotensi mengalami penurunan hasil panen apabila kondisi ini tidak segera ditangani.
Musim kemarau yang berlangsung sejak Juli 2026 dan diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober, membuat sejumlah lahan pertanian mulai mengalami gangguan.
Pemprov Jabar mencatat, dampak paling terasa terjadi pada lahan sawah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap ketersediaan air.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar Linda Al Amin menyebut, kekeringan tidak hanya berdampak terhadap produktivitas tanaman, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen pada sejumlah area pertanian.
"kekeringan memberikan dampak langsung berupa penurunan proyeksi hasil panen serta risiko gagal panen (puso) pada lahan sawah tadah hujan yang kekurangan pasokan air," ujar Linda, Rabu (5/8/2026).
Menurut Linda, komoditas padi menjadi sektor yang paling terdampak akibat kondisi cuaca ekstrem tersebut. Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu daerah yang berpotensi mengalami penurunan produksi cukup besar jika pasokan air tidak segera dipulihkan.
"Komoditas terdampak paling signifikan dirasakan pada komoditas padi. Sebagai contoh, sejumlah kawasan seperti Bandung Barat memproyeksikan penurunan produksi gabah sekitar 10-15 persen jika tidak dilakukan intervensi pengairan secara cepat," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani


