Dua Bulan Pengerjaan, Pemulihan Pascalongsor Pasirlangu Belum Tuntas
Bongkahan batu yang berserakan jadi kendala rehabilitasi kawasan Pasir Langu pascalongsor
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Upaya pemulihan wilayah pascaperistiwa longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga saat ini belum berjalan sepenuhnya tuntas.
Kendati sudah berlangsung cukup lama, sejumlah kendala teknis masih menjadi ganjalan agar kawasan terdampak dapat kembali dimanfaatkan secara aman dan optimal oleh warga.
Tumpukan material longsoran berupa tanah lunak serta bongkahan batu berukuran besar menjadi tantangan terberat yang belum teratasi sepenuhnya.
Meskipun pihak terkait terus mengerahkan alat berat dan tenaga kerja, proses pembersihan serta penataan lahan diperkirakan masih membutuhkan waktu lebih lama sebelum seluruh area benar-benar layak digunakan kembali.
Kepala Dusun Pasirlangu, Yuda (35) menjelaskan, upaya pemulihan dilakukan secara gotong royong antara pemerintah daerah dan warga setempat.
Menurutnya, dukungan yang diterima baik dari pemerintah maupun berbagai pihak donatur menjadi tumpuan utama untuk mempercepat langkah rehabilitasi.
“Pemerintah bersama kami warga terus berupaya menata kembali lahan yang rusak tertimbun longsor. Bantuan yang mengalir baik dari pemerintah maupun donatur kami manfaatkan sebaik mungkin untuk mempercepat proses ini,” ujar Yuda, Selasa (28/7/2026).
Yudi menyebut, sebagian besar alokasi bantuan digunakan untuk menyewa dan mengoperasikan alat berat.
Ia menilai, hal itu menjadi kebutuhan mendesak karena material longsoran yang menimbun lahan warga tidak mungkin dipindahkan hanya dengan tenaga manusia.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Sebagian besar kami gunakan untuk menyewa alat berat, supaya tumpukan tanah dan batu bisa segera disingkirkan, dan lahan warga bisa kembali kami ratakan serta dimanfaatkan,” terangnya.
Hingga saat ini, sebut Yudi, tiga unit alat berat telah beroperasi secara bertahap selama kurang lebih dua bulan penuh di lokasi bencana.
Namun, masih terdapat sejumlah titik yang belum terjangkau sepenuhnya karena tertutup bongkahan batu berukuran sangat besar yang sulit dipindahkan. Kondisi ini membuat proses rehabilitasi tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
“Masih ada beberapa area yang butuh penanganan lanjutan dan peralatan khusus, sebelum dipastikan benar-benar aman dan layak untuk dijadikan lahan usaha maupun tempat tinggal kembali,” ucapnya.
Salah satu warga terdampak, Asep (37) mengakui, kondisi di lokasi secara umum sudah jauh lebih baik dibandingkan masa-masa awal kejadian bencana.
"Aliran air yang dulunya sempat terganggu dan membawa material dari lereng Gunung Burangrang kini sudah berjalan normal, sehingga tidak lagi mengancam aktivitas perkebunan warga di sekitarnya," kata Asep.
Namun demikian, sebagian besar lahan produktif milik warga masih belum bisa diolah kembali karena tertutup tumpukan batu dan tanah yang belum dibersihkan.
"Selain masalah lahan, pemulihan kondisi sosial dan ekonomi warga juga menjadi perhatian utama. Hingga kini masih ada sejumlah keluarga yang belum berani kembali menempati rumah asalnya karena lokasi dinilai belum sepenuhnya aman dari ancaman longsor susulan," paparnya.
Asep menyebut, sebagian warga terpaksa harus menyewa tempat tinggal sementara di luar lokasi terdampak, sambil menunggu kepastian langkah pemerintah terkait penyediaan hunian yang lebih permanen dan aman.
“Harapan kami sederhana: bukan hanya lahannya yang bersih dan pulih, tapi kami warga juga bisa segera pulang ke rumah, berkebun, dan beraktivitas seperti sediakala," ujarnya.
"Masih ada tetangga yang harus membayar uang sewa setiap bulan karena belum boleh kembali. Semoga pemulihan ini segera tuntas dan ada solusi hunian yang pasti bagi kami,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

