Dua Sekolah Satu Arah

SEBANYAK 945 siswa kini berbagi ruang belajar. Dua sekolah beradaptasi dengan sistem dua shift agar kegiatan belajar tetap berjalan.

Dua Sekolah Satu Arah

Oleh : Yogo Triastopo

Pagi hari masih menjadi milik siswa SDN 148 Cibaduyut. Ketika bel sekolah berbunyi dan kegiatan belajar dimulai, ruang-ruang kelas dipenuhi aktivitas seperti biasa.

Namun, ketika jam menunjukkan sekitar pukul 13.00 WIB, suasana kembali berubah. Siswa SDN 026 Bojongloa mulai berdatangan dan menempati ruang yang sama. Dua sekolah kini berbagi tempat, dengan pembelajaran yang berlangsung dalam dua shift.

Sebanyak 945 siswa SDN 026 Bojongloa telah mengikuti kegiatan belajar di SDN 148 Cibaduyut. Pemindahan tersebut sudah berlangsung hampir tiga minggu dan dilakukan secara bertahap sebelum seluruh kelas akhirnya menggunakan lokasi baru.

Kepala SDN 026 Bojongloa Agus Mohamad Fajari mengatakan, proses pemindahan semula diawali dengan enam kelas. Setelah melihat kondisi pembelajaran berjalan baik, seluruh siswa kemudian dipindahkan.

“Sebetulnya ini pemindahan sudah berjalan hampir tiga minggu. Waktu itu dengan pak camat, kita sudah mencoba enam kelas dulu. Kemudian minggu depannya semua kelas masuk di sini,” kata Agus Mohamad Fajari, Selasa (8/9).

Pola dua shift menjadi cara sekolah menyesuaikan keterbatasan ruang. Siswa SDN 148 belajar pada pagi hari, sementara siswa SDN 026 menggunakan ruang kelas yang sama setelah kegiatan belajar sekolah pertama selesai.

“Sudah semua di sini. Dua shift pokoknya. SDN 148 pagi, kita jam 1 siang. Jadi ada jeda satu jam,” ucapnya.

Gedung SDN 026 Bojongloa kini tidak lagi digunakan untuk pembelajaran rutin. Bangunan lama hanya dimanfaatkan ketika sekolah membutuhkan ruangan khusus untuk kegiatan tertentu.

“Sudah kosong. Kecuali kalau misalnya ada kegiatan yang memang kita membutuhkan ruangan khusus. Setelah itu mereka pulang, sudah tidak ada pembelajaran di sana,” ujar dia.

Meski aktivitas belajar berpindah, bangunan lama bukan berarti ditinggalkan begitu saja. Seorang penjaga sekolah dan operator masih berada di lokasi untuk memastikan aset tetap aman.

“Kalau aset ada, karena di sana juga ada penjaga sekolah satu orang sama operator sekolah. Takut ada apa-apa. Kalau pagi saya ngantor di sana, kalau siang saya ngantor di sini,” tuturnya.

Kepala SDN 148 Cibaduyut Nana Suryana mengatakan, hampir tiga pekan berbagi ruang belajar tidak menimbulkan kendala berarti. Siswa dari kedua sekolah disebut mulai terbiasa dengan pola tersebut.

“Jadi kita sudah tiga minggu itu enjoy saja. Anak-anak senang, orang tua juga nunggu di sini kayaknya senang enggak ada masalah. Kita belajar pun tidak ada terkendala,” kata Nana Suryana.

Sebanyak 12 ruang kelas di SDN 148 digunakan dalam pengaturan pembelajaran dua sekolah. Dengan jumlah siswa sekitar 28 orang per kelas, ruang belajar dinilai masih mampu memberikan kenyamanan.

“Nyaman, aman. Semuanya ada 12, semuanya terisi. Satu kelas sekitar 28, enggak terlalu penuh,” ucapnya.

Perubahan jumlah siswa tentu membawa konsekuensi lain. Saat jam masuk dan pulang sekolah, arus kendaraan di depan SDN 148 menjadi lebih ramai. Namun, kepadatan itu dinilai masih dapat dikendalikan karena hanya berlangsung dalam waktu singkat.

“Itu hal lumrah. Ini keluar, itu masuk kemudian mereka pulang. Paling beberapa menit, enggak ada masalah,” ujar dia.

Sekolah juga tidak bekerja sendiri untuk mengatur pergerakan siswa dan orang tua. Karang Taruna dilibatkan untuk membantu menjaga ketertiban di sekitar sekolah, terutama ketika terjadi pergantian shift.

“Ada, kita kerja sama dengan Karang Taruna dan mereka sudah sigap,” katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran