Peti Kayu yang Membawa Ganja
PERJALANAN sebuah paket dari Terminal Bubulak berakhir di tangan polisi. Isinya mengungkap jejak jaringan narkoba antarprovinsi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Sebuah peti kayu bergerak dari Bogor menuju Sidoarjo, Jawa Timur. Dari luar, tak ada yang tampak mencurigakan. Paket itu bahkan disebut hanya berisi rokok.
Namun perjalanan paket tersebut ternyata menjadi pintu masuk bagi polisi untuk membongkar jaringan peredaran narkotika antarprovinsi.
Kecurigaan bermula ketika Satuan Reserse Narkoba Polresta Bogor Kota menerima laporan warga tentang sebuah paket mencurigakan di agen bus PO Murni Jaya, Terminal Bubulak, Bogor Barat. Paket yang dikirim via perusahaan logistik itu kemudian diawasi secara terselubung menggunakan metode controlled delivery.
Petugas membiarkan paket melanjutkan perjalanan menuju Sidoarjo. Pada Kamis (3/9) sekitar pukul 14.00 WIB, tim mengawal paket menggunakan bus antarkota hingga tiba di pool bus KYM Trans Sidoarjo. Tak lama berselang, seorang pria berinisial MDF (25) datang menggunakan sepeda motor Honda Beat merah untuk mengambil peti tersebut.
Gerakannya berakhir di tangan polisi. MDF disergap tanpa perlawanan. Ketika peti kayu dibuka, ditemukan 17 bungkus besar ganja kering yang dililit lakban cokelat dengan berat total 18,05 kilogram. Penggeledahan berlanjut ke sepeda motor dan menemukan 1.000 butir obat keras terbatas jenis Double L di dalam jok.
Wakapolresta Bogor Kota AKBP Arie Trestiawan mengatakan, MDF mengaku hanya menjalankan perintah. Dia disebut bekerja di bawah kendali seseorang berinisial YR alias W dan dijanjikan upah Rp3,5 juta untuk mengambil serta menyimpan paket tersebut sebelum diedarkan kembali. Polisi kini masih memburu YR yang disebut telah mempekerjakan MDF sebagai kurir selama sekitar tiga tahun.
Kasat Reserse Narkoba Polresta Bogor Kota Kompol Ali Jupri mengatakan, Terminal Bubulak hanya menjadi titik singgah untuk mengaburkan jejak pengiriman. Modus tersebut membuat paket seolah-olah merupakan barang biasa sebelum diteruskan ke kota tujuan.
“Namun ternyata kan bukan rokok. Hal itu dilakukan sebagai modus operandi dari pengirim untuk sampai ke kurir narkoba,” ujarnya.
Dari sebuah paket yang menyamar sebagai rokok, polisi akhirnya menemukan jejak jaringan yang lebih panjang. Pengungkapan tersebut, menurut kepolisian, diperkirakan menyelamatkan sedikitnya 108.829 jiwa dari potensi penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Perburuan terhadap jaringan di atas MDF pun masih berlanjut.
(rizki mauludi/gin)
Editor : Inilahkoran

