Dukung Larangan Roblox, Fadli Zon Sebut Berbahaya hingga Soroti Dampak Sadisme

Ia menilai bahwa konten kekerasan atau sadisme dalam gim digital bisa berdampak buruk pada psikologi dan perilaku anak.

Dukung Larangan Roblox, Fadli Zon Sebut Berbahaya hingga Soroti Dampak Sadisme

INILAHKORAN - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti yang melarang murid bermain gim Roblox. Ia menilai bahwa konten kekerasan atau sadisme dalam gim digital bisa berdampak buruk pada psikologi dan perilaku anak.

“Saya sependapat, kalau ada gim yang memuat unsur sadistik, kekerasan, dan sejenisnya, tentu itu berbahaya. Bisa memicu perilaku meniru atau copycat,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, anak-anak sangat rentan dalam menyerap apa yang mereka lihat di dunia digital. Oleh karena itu, konten yang tidak sesuai usia harus dicegah sejak dini, termasuk melalui kebijakan dan pengawasan orang tua.

“Kita perlu memberikan penyadaran. Sama seperti film, gim juga seharusnya ada batasan usia dan standar kontennya,” tegasnya.

Orang Tua Diminta Lebih Aktif Mengawasi Gim Anak
Fadli Zon menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak saat bermain gim, baik dalam memilih jenis gim maupun memahami nilai-nilai yang disampaikan oleh permainan tersebut. Ia menyarankan agar anak-anak di bawah usia tertentu tidak diberikan akses ke gim dengan unsur kekerasan.

Namun, ia menambahkan bahwa remaja atau anak yang lebih besar dinilai memiliki kemampuan lebih baik dalam menyaring konten buruk. Meski demikian, pengawasan tetap dibutuhkan agar mereka tidak terpengaruh oleh konten negatif secara tidak sadar.

Pernyataan Fadli Zon ini selaras dengan kebijakan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, yang pada awal Agustus melarang murid SD untuk bermain gim Roblox. Mu’ti menilai, gim tersebut mengandung banyak adegan kekerasan, pertengkaran, hingga bahasa yang tidak pantas, yang tidak cocok dikonsumsi oleh anak-anak usia sekolah dasar.

“Jangan main gim yang berantem-berantem, apalagi yang isinya kata-kata buruk. Roblox itu jangan dimainkan, itu tidak baik,” ujar Mu’ti (4/8).

Mu’ti juga menekankan bahwa anak-anak usia SD belum sepenuhnya mampu membedakan antara realitas dan fiksi, dan dikenal sebagai peniru ulung yang bisa menyalin perilaku dari apa yang mereka lihat di layar tanpa menyaringnya terlebih dahulu.


Editor : Firda Rachmawati