Ekspor Kopi Jabar ke Mesir Tembus Rp4,6 Miliar, WIITEX 2026 Perkuat Pasar Global

Jawa Barat terus memperkuat posisinya sebagai salah satu motor ekspor komoditas perkebunan nasional.

Ekspor Kopi Jabar ke Mesir Tembus Rp4,6 Miliar, WIITEX 2026 Perkuat Pasar Global
West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026.

INILAHKORAN.ID - Jawa Barat terus memperkuat posisinya sebagai salah satu motor Ekspor komoditas perkebunan nasional. Melalui ajang West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026.

Pemerintah daerah berhasil mendorong realisasi Ekspor kopi ke Mesir dengan nilai mencapai Rp4,6 miliar atau setara sekitar 172.200 dolar AS.

Transaksi Ekspor tersebut menjadi bukti konkret, strategi promosi perdagangan dan perluasan akses pasar internasional yang dilakukan mulai membuahkan hasil. Produk kopi asal daerah kini mampu bersaing dan menembus pasar luar negeri di tengah dinamika ekonomi global.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, Ekspor tersebut dilakukan oleh PT Zein Indo Trade yang sebelumnya memperoleh pendampingan melalui program pitching dan business matching yang difasilitasi pemerintah daerah.

"Jadi tadi kita pelepasan Ekspor ke Mesir dengan nilai total Rp 4,6 miliar atau hampir 172.200 dolar AS. Ini merupakan Ekspor yang dilakukan oleh PT Zein Indo Trade yang sebelumnya kami fasilitasi untuk melakukan pitching dan business matching dengan buyer dari beberapa negara," ujar Nining, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha mampu membuka peluang pasar baru sekaligus meningkatkan daya saing produk unggulan Jawa Barat di tingkat internasional.

Optimisme terhadap peningkatan transaksi Ekspor juga menguat dalam pelaksanaan WIITEX 2026. Sebanyak 72 pelaku usaha sektor kopi, teh, dan kakao yang mengikuti pameran telah menjalani proses penjajakan bisnis dan bertemu langsung dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Bahkan, empat pelaku usaha dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman dan kontrak dagang pada 14 Juni 2026 sebagai tindak lanjut dari pertemuan bisnis yang telah berlangsung selama pameran.

Nining menjelaskan, tema "The Golden Bean of Java: Coffee, Tea and Cacao for the Future" dipilih karena ketiga komoditas tersebut merupakan kekuatan utama sektor perkebunan Jawa Barat yang memiliki sejarah panjang sekaligus potensi besar di pasar dunia.

Ia mengungkapkan, Jawa Barat masih menjadi sentra utama produksi teh nasional. Sekitar 70 persen areal perkebunan teh Indonesia berada di wilayah ini dan menyumbang sekitar 80 persen produksi teh nasional.

Sisi lain, tren konsumsi global terhadap kopi, teh, dan kakao terus meningkat. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi pelaku usaha Jawa Barat untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan nilai tambah produk melalui hilirisasi.

"Nilai Ekspor kopi dan kakao terus meningkat. Sementara untuk teh, kami terus mendorong hilirisasi agar tidak hanya dijual dalam bentuk curah, tetapi menjadi produk premium seperti specialty tea, specialty kakao maupun produk wellness tea yang saat ini sedang berkembang di pasar global," katanya.

Lebih lanjut, Nining menilai gejolak ekonomi dan kondisi geopolitik dunia saat ini justru menghadirkan peluang bagi industri berbasis sumber daya lokal. 

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai dapat meningkatkan keuntungan eksportir, karena mayoritas komponen produksi masih menggunakan bahan baku dan tenaga kerja domestik.

Selain fokus pada peningkatan Ekspor, Disperindag Jabar juga meluncurkan penguatan Sistem Resi Gudang (SRG), untuk mendukung petani kopi, teh, dan kakao.

Melalui skema tersebut, petani dapat menyimpan hasil panen di gudang yang terakreditasi dan menjualnya ketika harga pasar lebih menguntungkan. Resi yang diterbitkan juga dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh akses pembiayaan dari lembaga perbankan.

"Ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok karena komoditas dapat terkumpul dalam jumlah besar dan memiliki kualitas yang lebih terjaga," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya menilai, WIITEX 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat kinerja Ekspor daerah sekaligus menjaga optimisme pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurutnya, Jawa Barat memiliki kontribusi besar terhadap capaian Ekspor nasional yang hingga kini masih mampu mempertahankan surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.

"Di tengah tantangan geopolitik global, justru ini momentum yang bagus. Jawa Barat memberikan kontribusi besar terhadap Ekspor nasional dan kita harus optimistis melihat peluang perdagangan internasional ke depan," katanya.

Ia menambahkan, pasar potensial bagi produk unggulan Jawa Barat tidak hanya berada di Mesir, tetapi juga mencakup Pakistan, India, China serta sejumlah negara di kawasan Afrika yang memiliki permintaan tinggi terhadap komoditas perkebunan.

Sebab itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas produk, penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang Ekspor, serta perluasan kegiatan business matching agar semakin banyak pelaku usaha daerah mampu menembus pasar internasional.***


Editor : JakaPermana