Gempa Mengguncang NTT: Kampus Bergerak Mengurai Dampak
SAAT bencana datang, ruang pengabdian kampus terbuka lebih lebar. Dosen dan mahasiswa turun membawa bantuan bagi warga terdampak gempa NTT.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat ruang-ruang kampus ikut bergerak. Bukan hanya memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan, perguruan tinggi juga turun ke tengah masyarakat, membawa pengetahuan, tenaga, logistik, dan kepedulian.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat koordinasi dengan perguruan tinggi di NTT untuk membantu masyarakat terdampak sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam situasi bencana. Perannya tidak berhenti pada keberlanjutan proses pendidikan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kontribusi keilmuan, sumber daya, serta jejaring yang dimiliki.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh sivitas akademika dan menjaga agar penanganan berlangsung cepat serta terkoordinasi,” katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (18/8).
Koordinasi itu kemudian menemukan bentuknya di lapangan. Sejumlah perguruan tinggi di NTT mulai mendirikan posko, menyalurkan bantuan, memberikan layanan kesehatan dan trauma healing, hingga mengerahkan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan ke lokasi terdampak.
Informasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV mencatat, gerakan tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga kemanusiaan.
Politeknik Cristo Re menjadi salah satu kampus yang membuka posko tanggap bencana di lingkungan kampus. Posko tersebut berkoordinasi dengan posko pemerintah daerah dan Posko Caritas Indonesia.
Pada dua hari pertama penanganan, sivitas akademika Politeknik Cristo Re juga menghadapi situasi yang tak mudah. Mereka harus mengevakuasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengalami luka akibat reruntuhan rumah warga di lokasi pengabdian.
Sebanyak 62 dosen, instruktur, dan mahasiswa kemudian bergerak membantu masyarakat. Mereka mendistribusikan logistik dari gudang BNPB ke wilayah Palue, Kangae, dan Talibura.
Mereka juga mendirikan lima tenda di RSUD TC Hillers dan Gelora Samador. Bantuan makanan dan terpal disalurkan kepada 11 keluarga terdampak di Desa Tarunggawang, Kabupaten Sikka, melalui kerja sama dengan Caritas Keuskupan Maumere. (gin)
Editor : Inilahkoran

