Gerbang SDN 026 Bojongloa Disegel, Disdik Kota Bandung Siapkan Relokasi 945 Siswa
Penyegelan gerbang SDN 026 Bojongloa mengancam 945 siswa. Disdik Kota Bandung siapkan relokasi belajar ke tiga sekolah terdekat dengan sistem shift.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Penyegelan gerbang SDN 026 Bojongloa, membuat 945 siswa terancam harus menjalani pembelajaran di lokasi berbeda. Dinas Pendidikan (DIsdik) Kota Bandung, kini menyiapkan skema relokasi sementara agar kegiatan belajar tetap berjalan.
Kepala DIsdik Kota Bandung, Asep Saeful Gufron menyampaikan, pihaknya segera melakukan mitigasi dengan memetakan kebutuhan ruang belajar bagi para siswa terdampak. Hari ini, akan langsung melakukan rapat internal.
"Kami akan melakukan mitigasi risiko, dalam arti kita akan petakan. Hari ini kita rapatkan karena kita juga kan merasa kasihan, terus begitu," kata Asep Saeful Gufron Rabu (6/8/2026).
Menurutnya, relokasi siswa tidak akan dilakukan ke satu sekolah saja. DIsdik Kota Bandung menyiapkan sejumlah alternatif lokasi yakni SD Leuwi Panjang, SD 269 Cibaduyut dan SD 229.
"Kita sekarang mau rapatkan, ada beberapa alternatif. Ada SD Leuwi Panjang, SD 269 Cibaduyut dan ada juga SD 229. Nanti sistem pembelajarannya ada shift 1 dan shift 2," ucapnya.
Dengan jumlah siswa mencapai 945 orang, pembelajaran akan diatur menggunakan sistem bergantian. Pihaknya masih menghitung kebutuhan ruang kelas, dan jumlah rombongan belajar sebelum menentukan pembagian siswa.
"Jadi enggak disebar di satu sekolah. Kita hitung dulu kan berapa kebutuhan ruangan, terus dari anak ini ada berapa rombongan belajar," ujar dia.
Di sisi lain kata Asep, pemerintah kota sebenarnya telah menyiapkan rencana pembangunan gedung sekolah baru di Bojongloa. Lahan disebut, sudah dibeli dan anggaran pembangunan telah disiapkan.
"Sebetulnya kita sudah beli tanah, kita sudah menganggarkan dan rencana dibangun di Bojongloa. Cuma sekarang masih ada persoalan dengan warga masyarakat, sebagian warga RW 2 menolak untuk pembangunan sekolah," ucapnya.
Penolakan tersebut, muncul karena sebagian warga RW 2 Kelurahan Cibaduyut Kidul khawatir keberadaan sekolah akan berdampak pada lingkungan sekitar. Kekhawatiran itu meliputi kebisingan, kepadatan aktivitas siswa hingga kemacetan.
"Dia itu mempermasalahkannya pasca dibangunnya sekolah. Takut berisik, terus macet. Walaupun kita kemarin sudah disampaikan untuk pengaturan supaya tidak macet," ujar dia.
Pihaknya kini masih melakukan komunikasi dan sosialisasi dengan warga untuk mencari penyelesaian. Dia berharap, pembangunan sekolah dapat berjalan demi kepentingan pendidikan anak-anak di Bojongloa.
"Mudah-mudahan lebih mengutamakan kepentingan umum, sehingga tidak ada bahasa penolakan untuk pembangunan sekolah. Karena ini nasib anak-anak kan perlu diperhatikan," jelasnya.
Kepada orang tua siswa, dia meminta agar tetap mempercayakan penanganan masalah ini kepada pemerintah. Pihaknya memastikan, kegiatan belajar siswa akan tetap menjadi prioritas.
"Orang tua percaya kepada pemerintah dalam hal ini DIsdik. Kita juga tidak akan membiarkan begitu saja. Mudah-mudahan pihak ahli waris juga mau memberikan kesempatan kepada para peserta didik SD tersebut," tutur dia.
Sementara itu, pembangunan gedung baru ditargetkan selesai pada Desember 2026 apabila tidak menemui hambatan. Proses pengerjaan, diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima bulan setelah seluruh persoalan terselesaikan.
"Kalau tidak ada hambatan, mudah-mudahan di akhir tahun selesai pembangunan. Itu kalau hitung-hitungan SPK antara lima bulan. Desember beres," tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


