Getir Warga, Air Langka

MATAHARI membakar bumi tanpa ampun di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan.Sumur-sumur galian sedalam belasan meter hanya menyisakan tanah retak dan lumpur kering.

Getir Warga, Air Langka
TINJAU: Bupati Cirebon Imron bersama Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa melihat kondisi sumur warga saat meninjau persoalan kekurangan air bersih di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Oleh : Maman Suharman

Bagi mayoritas warga desa, pilihan yang tersisa sangatlah pahit. Demi bisa mandi, mencuci pakaian, dan buang air, mereka terpaksa menyedot air dari saluran irigasi atau selokan keruh yang melintas di dekat permukiman.

Air berwarna kecokelatan itu dialirkan menggunakan pompa portabel ke dalam sumur- sumur mati mereka, berharap tanah bertindak sebagai penyaring alami.

Sementara untuk kebutuhan konsumsi seperti memasak dan minum, warga yang memiliki sedikit uang saku harus merogoh kocek ekstra sebesar Rp3.000 hingga Rp5.000 membeli air galon isi ulang setiap hari.

Kekeringan tahunan ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Memahami bahwa dropping air bersih menggunakan truk tangki bukanlah solusi permanen, Pemerintah Kabupaten Cirebon sadar tak bisa berjalan sendirian.

Bupati Cirebon Imron mengatakan, Pemkab Cirebon telah berkomunikasi dengan DPR RI dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dukungan penanganan kekurangan air bersih.

“Pemda juga berinovasi untuk menangani dan membantu masyarakat dengan komunikasi bersama DPR dan pemerintah pusat agar kami mendapat bantuan,” kata Imron, Senin (1/9).

Menurut Imron, kondisi kekurangan air bersih di Desa Slangit membutuhkan penanganan karena sumber air yang selama ini digunakan sebagian masyarakat tidak layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Air yang digunakan masyarakat itu air kotor, karena dari solokan. Air itu dimasukkan ke sumur, kemudian diambil untuk mandi. Ada juga yang ditampung di balong,” ujarnya.

Dari penelusuran awal, terdapat potensi sumber air pada kedalaman sekitar 185 meter.

Pemerintah pusat akan membantu melakukan pengeboran satu titik untuk menyediakan sumber air bersih bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mengatakan, persoalan akses air bersih di Desa Slangit sudah berlangsung cukup lama. Sekitar 4.000 warga disebut terdampak kondisi tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan minum, warga terpaksa membeli air kemasan. Sementara untuk mencuci, mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan air sungai.

Sehari-hari mereka untuk mencuci dan sebagainya mengambil dari kali ini, termasuk untuk mandi. Mereka membuat penampungan untuk mengambil air dari kali,” kata Saan.

Sebagai penanganan darurat, bantuan air bersih didistribusikan menggunakan sejumlah mobil tangki. Bantuan pompa juga disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sementara untuk penanganan jangka menengah dan panjang, Kementerian PUPR menyiapkan skema penyediaan sumber air dengan dukungan pembangkit listrik tenaga surya.

Sistem tersebut dirancang secara hybrid dengan memanfaatkan tenaga surya dan bahan bakar konvensional. Skema itu diharapkan dapat menekan biaya operasional penyediaan air yang nantinya ditanggung masyarakat.

Saan mengatakan, ancaman kekeringan perlu diantisipasi karena dampak El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan berikutnya.

Masyarakat pun diminta menghemat penggunaan air.

“Penggunaan air bersih harus lebih hemat, jangan memboroskan air, karena kita akan mengalami dampak El Nino di bulan depan,” ujarnya.

Selain persoalan air bersih, warga Slangit menyampaikan kebutuhan perbaikan infrastruktur jalan. Dukungan penanganan jalan dalam kunjungan tersebut disebut mencakup sekitar 1,5 kilometer.

Untuk sektor pertanian, kondisi pasokan air relatif membaik setelah normalisasi sungai dilakukan pada 2025. Sebelumnya, keterbatasan air membuat petani di wilayah tersebut hanya mampu melakukan panen sekali dalam setahun.

Dia menambahkan, normalisasi yang dilakukan Ditjen Sumber Daya Air membuat pasokan untuk pertanian kembali relatif normal. Namun, persoalan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Air ke depan, juga akan menjadi persoalan serius buat kita semua. Makanya dari Kementerian PUPR, khususnya Dirjen SDA, terus berkreasi dan berinovasi untuk mengantisipasi persoalan ke depan agar masyarakat tidak kena dampak dari problem air,” pungkasnya. (bsf )


Editor : Inilahkoran