Jejak Lama Pulang ke Pendopo Bandung

ADA sejarah panjang di balik dinding Pendopo Bandung. Kini, jejak itu hendak dihidupkan kembali.

Jejak Lama Pulang ke Pendopo Bandung
DESAIN LAMA: Pendopo Kota Bandung ditata kembali dengan mengacu pada desain masa lalu, sebagai upaya menjaga nilai sejarah bangunan. Langkah ini dilakukan guna mengembalikan karakter awal bangunan.

Oleh: Yogo Triastopo

Pendopo Kota Bandung sedang menjalani masa jeda. Di balik dinding bangunan tua itu, sebuah pekerjaan tengah berlangsung. Bukan sekadar memperbaiki bagian yang rusak atau membuat bangunan tampak lebih baru, melainkan mencoba mengembalikan karakter yang pernah dimilikinya.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut penataan Pendopo kini mengacu pada desain masa lalu. Pemerintah ingin membawa kembali wajah awal bangunan bersejarah tersebut, meski tidak mungkin mengulang seluruh detailnya seperti ketika pertama kali berdiri.

Ada bagian-bagian yang telah berubah oleh waktu. Ada material yang tak lagi mungkin digunakan. Dan ada jejak sejarah yang tidak dapat begitu saja disalin kembali.

“Pendopo Kota Bandung sekarang sedang direnovasi, dan ditata kembali dengan mengacu pada desain masa lalu. Kalau mengembalikan secara total menggunakan bahan yang sama seperti aslinya, sepertinya tidak mungkin,” kata Farhan, Selasa (1/9). 

Bagi Bandung, Pendopo bukan sekadar rumah dinas wali kota. Bangunan itu merupakan bagian dari perjalanan panjang kota. 

Di kawasan tersebut terdapat titik yang berkaitan dengan karya Bung Karno. Kawasan yang sama juga pernah menjadi tempat tinggal keluarga Wiranatakusumah, keluarga yang kemudian menyumbangkan asetnya kepada negara.

Pendopo joglo bahkan pernah melewati masa paling genting dalam sejarah Bandung. Bangunan itu terbakar dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Beberapa tahun kemudian, pada 1956, Pendopo kembali dibangun. Waktunya tidak jauh setelah Konferensi Asia Afrika, ketika Bandung tengah meneguhkan dirinya sebagai kota yang memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia dan dunia.

Kini, lebih dari setengah abad setelah pembangunan kembali itu, Pendopo kembali berhadapan dengan perubahan. Namun kali ini perubahan tersebut bukan karena perang atau kebakaran. Ia datang dari kebutuhan untuk merawat.

Farhan menyadari satu hal: mengembalikan Pendopo seperti kondisi awal bukan pekerjaan yang sederhana. Material yang digunakan pada masa lalu belum tentu tersedia sekarang. Teknologi dan kebutuhan bangunan juga telah berubah.

Karena itu, pemerintah memilih jalan tengah. Bentuk dan karakter masa lalu dijadikan rujukan, sementara penataan disesuaikan dengan kondisi bangunan saat ini.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat status Pendopo sebagai bangunan cagar budaya. Farhan menyebut pemerintah akan mengupayakan agar Pendopo naik status menjadi cagar budaya nasional kelas A.

Jika status tersebut semakin kuat, ruang untuk mengubah bangunan juga semakin terbatas. Interior tidak bisa lagi diperlakukan seperti ruang biasa yang bebas dibongkar-pasang sesuai selera penghuni.

“Saat ini Pendopo juga masih menjadi tempat tinggal resmi wali kota secara pribadi. Nantinya setelah statusnya sebagai cagar budaya diperkuat, interior bangunan juga tidak boleh diubah sembarangan,” ujar Farhan. (gin)


Editor : Inilahkoran