Habiskan Dana Miliaran Rupiah, Pusat Kuliner Pasar Batik Kini Terbengkalai
Pusat Kuliner Pasar Batik Kabupaten Cirebon kini kondisinya kumuh dan terbengkalai padahal dulu pembangunannya menghabiskan miliaran rupiah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - Pusat Kuliner Pasar Batik di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon terkesan dibiarkan terbengkalai dan tidak terurus
Bahkan, kondisi Pusat Kuliner Pasar Batik saat ini terlihat kumuh dan berantakan. Padahal dulu, perlu menghabiskan anggaran miliaran rupiah.
"Pembangunannya itu diharapkan bisa menumbuhkan geliat kuliner Cirebon. Namun, yang sudah bertahun-tahun berdiri, geliat kulinernya tidak terlihat. Malah, tempatnya (Pusat Kuliner Pasar Batik) saja berantakan dan dibiarkan tak terurus," kata Ketua Lembaga Studi (Lesda) Cirebon, Abdurohim, Rabu 9 maret 2022.
Ia meminta agar ada evaluasi. Terutama leading sektornya, yakni Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Diperdagin) Kabupaten Cirebon. Dirinya berharap, Disperindag setempat jangan hanya menyerap anggaran untuk pembangunannya saja, tapi tidak bisa memanfaatkannya.
"Disperindag harus bertanggungjawab. Mereka harus dievaluasi. Sudah dikasih anggaran, harusnya bisa dimanfaatkan. Bukan dibiarkan begitu," katanya.
Abdurohim juga mengaku heran, karena Disperindag berlindung padanl kondisi pandemi. Padahal seolah membenarkan adanya pembiaran lokasi itu terbengkalai. Faktanya, sebelum pandemi pun, Pasar Batik sudah dibuka. Tapi, geliatnya tidak maksimal.
"Kalau begini terus, bagaimana bisa memberikan PAD. Yang ada malah rugi kita. Saya minta DPRD segera memanggil Disperindag," jelasnya.
Sementara itu, Sekdis Disperdagin Kabupaten Cirebon, Anthony Syaufa menjelaskan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan membahas terkait kelangsungan pasar batik. Termasuk di dalamnya, Pusat Kuliner.
Baca Juga: Spoiler A Business Proposal Episode 5: Kekesalan Kang Tae Moo atas Kebohongan Shin Ha Ri
“Sudah dibicarakan. Dalam waktu dekat ini, kita akan ada pertemuan. Kemarin kan sudah diramaikan oleh H Apud,” aku Anthony.
Intinya, kata Anthony, pihaknya sudah memfasilitasi dengan menyediakan sarana kuliner. Hanya saja, upayanya belum maksimal. Alasannya, sempat terhambat oleh adanya pandemi. Kini, kasusnya mulai mereda. Diharapkan geliat perekonomian dan kuliner terangkat. Pihaknya pun sudah memiliki peta, langkah apa yang akan dilakukan kedepannya, setelah Covid menjadi endemi.
“Kita juga sudah ada komunikasi dengan pegiat pariwisata. Mereka sudah ada komitmen dengan kita, akan bersama-sama meramaikan pasar batik,” ungkapnya.
Dia menambahkan, sebelum pandemi memang sudah dilakukan berbagai upaya. Baik melalui even ataupun kegiatan lainnya. Hanya saja, masih belum mengangkat. Ditambah setelah itu, muncul gempuran Covid-19. Artinya, kata dia, bukannya Disperdagin tak berupaya.
Baca Juga: Harga Daging Melonjak, Kadisperindag Sebut di KBB Masih Wajar
“Kita sudah melakukan berbagai langkah, hanya saja, masih belum mengangkat. Mudah-mudahan setelah pandemi ini, geliatnya akan tumbuh. Dan kami optimistis ke depan akan lebih baik lagi,” tukasnya. (maman suharman)
Editor : inilahkoran


