Hanya Fokus Mitigasi, Cimahi-KBB Belum Miliki EWS untuk Sesar Lembang
Di tengah ancaman Sesar Lembang, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi maupun Pemkab Bandung Barat ternyata belum memiliki sistem peringatan dini gempa atau Early Warning System (EWS).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Di tengah ancaman Sesar Lembang, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi maupun Pemkab Bandung Barat ternyata belum memiliki sistem peringatan dini gempa atau Early Warning System (EWS).
Padahal, baik Kota Cimahi maupun Kabupaten Bandung Barat merupakan daerah yang masuk ke zona merah Sesar Lembang.
Bahkan, dalam dua bulan setidaknya ada dua kejadian gempa bumi yang mengguncang daerah tersebut. Wali Kota Cimahi, Ngatiyana mengakui pihaknya hanya memfokuskan antisipasi pada mitigasi dan sosialisasi ke masyarakat.
"Iya terjadi gempa kecil ya beberapa kali. Masyarakat jangan terlalu khawatir, tapi kesiapan kita, kewaspadaan kita semua harus ditingkatkan," kata Ngatiyana.
"Mitigasi diutamakan, bagaimana cara menyelamatkan diri, semua harus tahu bagaimana cara keluar dari ruangan," ucapnya.
Sementara saat disinggung soal kesiapan fiskal sebagai upaya penanggulangan dampak Sesar Lembang bisa terjadi sewaktu-waktu, Ngatiyana menyebut ada pos anggaran khusus yang tak akan diganggu gugat.
"Ya soal fiskal, kalau terjadi (gempa bumi Sesar Lembang), semua sudah disiapkan anggarannya. Yang tidak terduga kita selalu siap, disiapkan di BTT," katanya.
"Tetap tidak segampang itu digunakan, karena kita berdoa tidak terjadi," ucap Ngatiyana.
Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD KBB Meidi mengaku, pihaknya belum memiliki EWS. Menurutnya, alat tersebut sifatnya general atau umum.
Meski begitu, dirinya mengimbau seluruh masyarakat di Bandung Barat agar meningkatkan kewaspadaan dan memperbanyak doa.
"Terpenting jangan ada lagi alih fungsi lahan. Sebaliknya, jaga kelestarian alam, kita jaga alam dan alam akan jaga kita," katanya saat dihubungi.
Tak cuma itu, tambah Meidi, BPBD KBB juga melakukan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Relawan Bencana, yakni melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
"Kemudian penting juga untuk mengindari aktivitas di kawasan lereng-lereng pegunungan, terutama sepanjang jalur Sesar Lembang," ucapnya.***
Editor : JakaPermana

