Naskah Sunda Kuno Ungkap 3 Kunci Mitigasi Bencana: Bijaksana, Cukup, dan Waspada
Peneliti naskah kuno Sunda, Panji Topan Bahagia, mengungkap tiga prinsip mitigasi bencana dari leluhur, yakni bijaksana, cukup, dan waspada.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kearifan lokal leluhur Sunda menyimpan pelajaran penting tentang mitigasi bencana. Melalui naskah-naskah kuno, masyarakat diajak memahami dinamika alam sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan agar risiko bencana dapat diminimalkan.
Peneliti naskah kuno Sunda, Panji Topan Bahagia, mengungkapkan bahwa sejumlah naskah, seperti Sanghiyang Ragadéwata, Tutur Bwana, dan Sanghiyang Siksa Kandang Karesian, memuat pandangan tentang hubungan manusia dengan alam serta pentingnya kewaspadaan menghadapi bencana.
Dalam kosmologi Sunda Kuno, alam semesta digambarkan melalui pasangan yang saling melengkapi, seperti langit dan bumi, matahari dan bulan, terang dan gelap, serta hujan dan kemarau.
“Dalam kosmologi Naskah Sunda Kuno, penciptaan alam semesta digambarkan berpasangan secara seimbang, yakni langit–bumi, matahari–bulan, terang–gelap, hujan–kemarau, bahkan kebaikan–keburukan,” kata Panji dalam Diskusi Panel Mitigasi Bencana Berdasarkan Kearifan Lokal.
Menurut Panji, bencana seperti gempa bumi, angin kencang, banjir, dan kekeringan merupakan bagian dari dinamika alam. Namun, dampaknya dapat semakin besar ketika manusia mengabaikan keseimbangan lingkungan dan tidak mempersiapkan diri menghadapi risiko.
“Naskah kuno mengingatkan, bencana kerap kali menjadi dampak dari ketidakbijaksanaan manusia sendiri dalam memperlakukan alam, ketidaksiapan menghadapi risiko atau keserakahan yang mengabaikan batas kemampuan lingkungan,” ungkapnya.
Tiga Prinsip Mitigasi Bencana dari Leluhur Sunda
Panji menjelaskan, terdapat tiga prinsip utama yang dapat dipetik dari kearifan leluhur Sunda untuk menghadapi risiko bencana, yakni bijaksana, cukup, dan waspada.
Prinsip bijaksana mengajarkan manusia agar mempertimbangkan kondisi alam sebelum memanfaatkan lingkungan. Sementara itu, prinsip cukup mengingatkan agar manusia tidak mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan dan tetap menyisakan cadangan untuk menghadapi masa sulit.
Adapun prinsip waspada menekankan pentingnya mengenali potensi bahaya dan membangun kesiapsiagaan sejak dini.
Menurut Panji, pesan tersebut juga tercermin dalam kisah Batara Kala yang dikaitkan dengan kawasan curam dan terjal. Kisah itu dapat dimaknai sebagai pengingat agar manusia tidak memaksakan diri tinggal atau membangun permukiman di wilayah yang rentan bencana.
“Ini bukan sekadar mitos, tapi petunjuk agar manusia tidak memaksakan diri mendiami wilayah yang rentan bencana,” terangnya.
Naskah Kuno Mengajarkan Keseimbangan Alam
Dalam Sanghiyang Ragadéwata, terdapat petikan yang menggambarkan asal-usul kehidupan dan penciptaan alam semesta. Teks tersebut menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian bermula dari satu sumber, sebelum bumi dan isinya tercipta.
Sementara itu, Tutur Bwana menggambarkan hubungan antara bumi dan langit, siang dan malam, serta hujan dan kemarau sebagai bagian dari satu kesatuan alam.
Panji menilai, pandangan tersebut mengingatkan manusia bahwa setiap unsur alam saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Karena itu, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi berlebihan dapat meningkatkan risiko bencana. Pembukaan lahan di kawasan rawan longsor, pembangunan di wilayah berbahaya, hingga pemanfaatan sumber daya yang melampaui kemampuan alam untuk memulihkan diri perlu menjadi perhatian.
Dalam konteks ini, mitigasi tidak hanya berkaitan dengan penanganan ketika bencana terjadi, tetapi juga upaya mencegah dan mengurangi risiko sejak awal.
Cadangan Pangan dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Panji juga menyoroti ajaran dalam Sanghiyang Siksa Kandang Karesian yang menekankan pentingnya pengelolaan kehidupan secara bijaksana. Salah satu pesan yang disampaikan ialah menghindari pemaksaan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai serta memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
“Jangan memaksakan sawah di tempat yang tak cocok, jangan membangun di lereng terjal, selalu sediakan cadangan pangan agar tak kekurangan di masa sulit,” imbuhnya.
Ia menambahkan, prinsip Kuta Manuk turut mengingatkan pentingnya menjaga kawasan terjal, hutan belantara, dan ekosistem yang rentan agar tidak dieksploitasi secara berlebihan.
Selain menjaga lingkungan, ketersediaan cadangan pangan dan kebutuhan dasar juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan masyarakat ketika bencana terjadi.
Panji menegaskan, manusia perlu menyesuaikan diri dengan karakter alam, bukan memaksakan kehendak untuk menguasainya.
“Berlakslah seperti air, mengalir menuruti hakikatnya, tidak melawan, tidak memaksa, namun terus bergerak dan memberi kehidupan. Bukan menaklukkan alam, melainkan hidup selaras dengannya. Itulah mitigasi sesungguhnya yang diajarkan leluhur sejak ribuan tahun lalu,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

