Harga Aci Melonjak, Untung Pedagang Tergerus
HARGA bahan baku kini melonjak tajam. Keuntungan pedagang kecil tergerus.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Di balik seporsi cipuk dan cireng yang dijajakan, ada hitungan modal yang semakin sulit dijaga. Harga bahan baku terus merangkak naik, sementara pedagang makanan kecil tak leluasa menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.
Situasi itu dirasakan Wasitah (57), pedagang aneka makanan ringan di Pasar Balubur Town Square, Kota Bandung. Dalam beberapa bulan terakhir, perempuan ini harus menghadapi kenaikan harga sejumlah bahan baku, terutama tepung tapioka atau aci yang menjadi bahan utama berbagai makanan dagangannya.
Harga aci yang sebelumnya dibeli sekitar Rp280 ribu per karung dengan berat 25 kilogram, kini melonjak menjadi lebih dari Rp400 ribu. Kenaikan itu juga berimbas pada harga eceran per kilogram, dari semula Rp14 ribu menjadi Rp18 ribu.
"Biasanya itu cuma Rp280 ribu lebih, sekarang sudah Rp400 ribu lebih harganya. Bulan-bulan ini saja naiknya. Satu kilo aci biasanya jual Rp14 ribu, sekarang jadi Rp18 ribu,” ujar Wasitah, Senin (2/11/2026).
Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan tersebut. Namun, perubahan harga dari agen terjadi berulang kali, dengan besaran kenaikan yang semakin terasa.
"Kenaikan pertama kalau enggak salah mendekati Rp10 ribu. Berikutnya naik lagi, malah lebih dari Rp10 ribu. Sekarang totalnya sampai meledak begini harga aci," ucapnya.
Mahalnya aci ikut mendorong kenaikan harga makanan olahan yang dijualnya. Cipuk, misalnya, kini dibeli dari pemasok seharga Rp9.500, naik dari sebelumnya Rp8.000.
Otak-otak pun mengalami penyesuaian. Untuk ukuran kecil, Wasitah kini membeli dari pemasok dengan harga Rp5.000 dan menjualnya kembali Rp5.500. Sementara ukuran besar dibeli Rp6.000 dan dipasarkan Rp6.500.
Tekanan modal tidak berhenti pada bahan olahan aci. Harga makaroni juga naik dari Rp198 ribu menjadi Rp210 ribu per bal. Adapun harga basreng dan kerupuk sejauh ini masih bertahan.
Bagi pedagang kecil seperti Wasitah, kenaikan harga dari pemasok menghadirkan dilema. Seluruh tambahan biaya tidak bisa begitu saja dibebankan kepada pembeli. Jika harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan bisa beralih. Namun, mempertahankan harga lama membuat keuntungan semakin tipis.
Karena itu, dia memilih menyesuaikan porsi maupun harga secara hati-hati. Cara tersebut dilakukan agar dagangannya tetap terjangkau dan pembeli tidak merasa terbebani.
"Jadi yang tadinya seporsi sekian, sekarang ditambahin harga atau dikurangin sedikit. Takut yang beli pada komplain kemahalan," katanya.
(yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran

