Harga Telur Tertekan, Pemerintah Turun Tangan

Harga Telur Tertekan, Pemerintah Turun Tangan
TELUR: Pemerintah mempercepat penyerapan telur ayam ras melalui Perum Bulog dan ID FOOD dengan memprioritaskan peternak mikro. (ANTARA FOTO)

INILAH, Jakarta- Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penyerapan telur ayam ras melalui Perum Bulog dan ID FOOD dengan memprioritaskan peternak mikro serta kecil guna memperkuat pendapatan peternak nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan intervensi diperlukan karena harga telur di sejumlah sentra produksi masih berada di bawah tingkat yang dibutuhkan peternak untuk menutup biaya produksi.

“Peternak mikro dan kecil, terutama yang tergabung dalam koperasi-koperasi, ini menjadi prioritas," kata Agung terkonfirmasi di Jakarta, Rabu (4/11).

Dia menyampaikan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Bulog, ID FOOD, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Gizi Nasional (BGN), serta perwakilan koperasi dan peternak guna mendorong percepatan penyerapan telur peternak.

Dia menyampaikan Kementerian Pertanian mempercepat penyerapan telur ayam ras senilai Rp30 miliar melalui Perum Bulog dan ID FOOD. Langkah itu merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman untuk memperkuat penyerapan hasil peternak.

Ia mengatakan masing-masing BUMN pangan menyiapkan alokasi Rp15 miliar. Penyerapan diarahkan terutama ke sentra produksi di Pulau Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan, yang mengalami tekanan harga.

Langkah itu diarahkan untuk membantu peternak, terutama peternak mikro dan kecil yang tergabung dalam koperasi/asosiasi, sekaligus mendorong perbaikan harga telur di tingkat produsen.

"Jangan sampai ada koperasi yang merasa tertinggal dan tidak bisa menikmati atau mendapatkan serapan telur dari program Rp30 miliar ini,” tutur Agung.

Agung menjelaskan, penyerapan diprioritaskan di daerah sentra telur dengan harga pembelian minimal Rp24.000 per kilogram. Langkah itu diharapkan dapat membantu peternak di wilayah yang harga telurnya sedang tertekan.

“Rp30 miliar itu akan dilakukan penyerapan secara prioritas di daerah sentra telur dengan harga minimal Rp24.000 per kilogram,” ujarnya.

Direktur Pemasaran Perum Bulog Rahmanto Amin Jatmiko menjelaskan pengadaan telur dilakukan melalui mekanisme komersial. Karena itu, pembelian harus disiapkan bersama saluran penjualannya.

Telur memiliki masa simpan sekitar tujuh hingga 10 hari sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.

“Jadi kalau semakin cepat kita bisa mendapatkan informasi ketersediaannya dan penyerapannya, kita langsung bisa siapkan anggarannya, kita bisa siapkan saluran penjualannya,” kata Rahmanto.

Bulog menyampaikan pengadaan telur sepanjang Januari hingga Oktober 2026 telah mencapai nilai sekitar Rp15 miliar. Untuk program tambahan, perusahaan menyiapkan alokasi Rp15 miliar.

Dalam rapat, Bulog juga melaporkan telah memperoleh persetujuan internal sekitar Rp4,8 miliar untuk tahap awal pengadaan tambahan tersebut.

Sementara itu, ID FOOD telah memulai penyerapan telur sejak 27 Oktober 2026. Dalam lima hari pertama, hingga 2 November, perusahaan melaporkan realisasi pembelian sekitar Rp2,9 miliar atau setara 130 ton. (bsf)


Editor : Inilahkoran