Hargai Cabai di Garut Meroket, Begini Upaya Tim PPHH Kendalikan OPT yang Jadi Penyebab

Harga cabai di Garut meroket, tim dari PPH Kementan pun langsung turun tangan mengendalikan OPT yang akibatkan gagal panen.

Hargai Cabai di Garut Meroket, Begini Upaya Tim PPHH Kendalikan OPT yang Jadi Penyebab
Tim dari PPH Kementan berupaya kendalikan OPT untuk menekan tingginya harga cabai di Garut.

INILAHKORAN, Garut- tim Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura (PPHH) Kementerian Pertanian (Kementan) turun langsung ke Kabupaten Garut untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mengakibatkan kegagalan panen hingga memicu kenaikan harga hortikultura khususnya cabai. 

Bersama petugas POPT (pengendali organisme pengganggu tanaman), mereka berusaha melakukan pengendalian OPT.

Mereka melakukan penyemprotan terhadap tanaman cabai menggunakan Agen Pengendali Hayati (APH) atau non pestisida kimia ramah lingkungan.

Baca Juga: Begini Cerita Ridwan Kamil Saat Mandikan Jenazah Eril di Swiss

Menurut Direktur PPHH Kementan, Bambang Sugiharto, dari hasil penelitian ternyata yang menjadi penyebab mahalnya harga cabai saat ini adalah adanya serangan OPT.

Produksi cabai secara nasional turun akibat serangan hama menyebabkan berlaku hukum ekonomi supply and demand.

"Itulah sebabnya kita dari direktorat Jenderal Hortikultura, turun full team, all out. Apapun background-nya, semua turun untuk melakukan gerakan pengendalian hama cabai, OPT cabai, agar serangan-serangan itu bisa dikurangi," ujarnya di Desa Padaawas Kecamatan Pasirwangi, Senin 12 Juni 2022.

Baca Juga: Perangkat Daerah di Kabupaten-Kota Diminta Door to Door Lakukan Pendataan Penerima STB Gratis

Dia menyebutkan, maraknya serangan OPT terjadi karena kondisi hujan yang terus menerus, dan hal itu hampir terjadi di seluruh daerah produsen cabai. Baik di Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Namun begitu, kata Bambang, serangan OPT di Kabupaten Garut masih terkendali dengan baik.

Serangannya tidak begitu parah. Sehingga Garut diharapkan menjadi penyokong atau penolong untuk kebutuhan cabai di daerah Jabodetabek.

Berbeda di daerah lain yang kerusakan produksi cabainya parah akibat serangan OPT tersebut.

Baca Juga: Atlet Indonesia Luluk Diana Juara Dunia Angkat Besi Remaja IWF 2022

Semisal di Bogor, dilaporkan 60 persen produksi cabainya rusak akibat serangan OPT.
Harga cabai di tingkat petani sendiri, kata Bambang, cukup bervariatif di sejumlah daerah, berkisar Rp55 ribu sampai Rp77 ribu per kilogram.

Bambang pun menyatakan terima kasihnya atas peran petugas POPT di seluruh Indonesia yang bersama-sama melakukan gerakan besar pengendalian OPT.

Dia beharap para petani juga dapat terus menerus menjaga keamanan tanhnya, dan berharap mereka menggunakan agen pengendali hayati (APH) dalam pengendalian hama penyakit.

Baca Juga: Ridwan Kamil Sampaikan Waktu Bagi yang Akan Ziarah ke Makam Eril

"Kita juga harus menjaga kesehatan masyarakat kita, konsumen-konsumen yang pembeli itu kan saudara-saudara kita. Jagan diberikan dari bahan kimia. itu ada residu. Residunya nanti meracuni," ingatnya.

Sub Koordinator Pengendalian OPT Dinas Pertanian Garut Yusep Dani Abdillah mengatakan, pihaknya sudah memberikan support berupa sarana prasarana seperti hand blower dan hand sprayer untuk mengendalikan hama penyakit.

"Mudah-mudahan serangan hama penyakit yang sekarang sedang meningkat-meningkatnya bisa ditekan. Sehingga produksi tetap terjaga untuk keperluan terutama bulan depan menghadapi Idul Adha," harapnya. 

Baca Juga: Ramalan Zodiak 14 Juni 2022: Cancer Ini Solusi Stres Hari Ini

Data OPT Tanaman Cabe berhasil diidentifikasi Dinas Pertanian Kabupaten Garut Periode 31 Mei 2022 antara lain:

1. Trips ( Scirtothrips dorsalis ) seluas 10 ha kategori intensitas serangan ringan

2. Antraknosa ( Colletotrichum capsici ) seluas 54 ha kategori intensitas serangan ringan dan 5 ha kategori intensitas serangan sedang

3. Kutu Daun ( Myzus ) seluas 11 ha kategori intensitas serangan ringan

4. Layu Fusarium ( Fusarium oxysporium ) seluas 2 ha kategori intensitas serangan ringan

5. Virus Kuning (Gemini) seluas 4 ha kategori intensitas serangan ringan

6. Bercak Daun ( Cercospora capsici ) seluas 8 ha kategori intensitas serangan ringan

7. Lalat Buah ( Bactrocera sp ) seluas 14 ha kategori intensitas serangan ringan.***(Zainulmukhtar)


Editor : inilahkoran