Herman Soroti Mental Takut Pelaku UMKM
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
INILAH, Bandung - Rasa takut sering datang bahkan sebelum langkah pertama dimulai. Takut produk tidak laku. Takut mengalami kerugian. Takut ditolak pasar.
Bagi Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman, sederet kekhawatiran itulah yang justru kerap menjadi penghalang terbesar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.
Persoalan UMKM, menurut Herman, tidak selalu berhenti pada keterbatasan modal ataupun akses pasar. Ada persoalan lain yang tak kalah penting, tetapi sering tidak terlihat: pola pikir.
Pesan itu disampaikan Herman saat menghadiri Pendampingan Pengurusan Sertifikasi Halal bagi 1.000 Pelaku UMKM Mikro dan Kecil serta Executive Seminar bertajuk “AKU KAMU KITA Bergerak Bersama Membangun Bisnis UMKM Indonesia” di Blessing Room Convention Center D'Botanica Hotel, Kota Bandung, Rabu (2/9).
Di hadapan para pelaku usaha, Herman mengajak mereka tidak sekadar bertahan, tetapi berani menargetkan usaha agar naik kelas.
“Tidak ada alasan pokoknya semua yang hadir di sini UMKM-nya harus naik kelas, dan itu mulai dari pikiran. Mulai dari pikiran, sesederhana itu,” ujar Herman.
Baginya, perubahan usaha tidak selalu dimulai dari tambahan modal atau strategi pemasaran baru. Ada perubahan yang lebih awal dan lebih mendasar, yakni keberanian untuk percaya bahwa usaha yang dijalankan bisa berkembang.
Sebab, sebelum menghadapi pasar, pelaku UMKM sering kali sudah lebih dulu berhadapan dengan pikirannya sendiri.
“Persoalannya belum apa-apa kita semuanya sudah takut. Takut enggak laku, takut rugi, takut ditolak. Itu yang membuat sulit naik kelas,” ucapnya.
Ketakutan itu bukan berarti harus diabaikan. Namun, Herman mendorong para pelaku usaha agar tidak membiarkannya menjadi alasan untuk berhenti mencoba.
Optimisme, keberanian dan visi yang jelas diperlukan agar usaha memiliki arah. Ketika tantangan datang, visi itulah yang menjadi pegangan agar pelaku usaha tidak mudah goyah.
Namun, memiliki visi saja tidak cukup. Ada satu hal lain yang menurut Herman menjadi kunci: konsistensi. Dia menggambarkannya melalui sebuah peribahasa Sunda tentang air yang terus menetes di atas batu.
Setetes air mungkin tampak tidak berarti. Batu yang keras pun seolah tidak akan berubah hanya karena terkena air. Tetapi ketika tetesan itu datang berulang-ulang, perlahan batu pun berubah.
“Walaupun batu keras dan air itu hanya setetes, tapi terus-terusan, sudah akan jadi legok. Mun keyeng tangtu pareng, kata leluhur,” katanya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun usaha bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ada proses panjang yang harus dilewati, termasuk ketika hasil yang diharapkan belum juga terlihat.
Kegagalan pun menjadi bagian dari perjalanan. Pelaku UMKM, kata Herman, harus siap belajar dari kegagalan, memperbaiki kekurangan, kemudian mencoba kembali. Keunggulan bukan sesuatu yang tiba-tiba hadir, melainkan lahir dari proses yang terus diulang.
“Tidak ada yang unggul, yang ada adalah pengulangan. Repetition, diulang-ulang terus,” ujarnya.
Karena itu, perjalanan menuju UMKM naik kelas membutuhkan napas panjang. Pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki produk, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk terus mengembangkan diri. (gin)
Editor : Inilahkoran

