Uap Tradisi yang tak Pernah Padam

TAK ada mesin canggih. Hanya kotak kayu, rebusan rempah, dan uap panas. Begitulah leuhang bertahan di Cisondari.

Uap Tradisi yang tak Pernah Padam
TERAPI TRADISIONAL: Dua pria sedang menjalani terapi tradisional Sunda Ini Leuhang yang masih bertahan di Kampung Cisondari, Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Oleh: Dani R Nugraha

TAK ada mesin canggih. Hanya kotak kayu, rebusan rempah, dan uap panas. Begitulah leuhang bertahan di Cisondari.

Uap panas mengepul perlahan dari sebuah kotak kayu. Aroma sereh, daun salam, pandan, sirih, dan kayu manis bercampur memenuhi ruangan. Dari celah-celah kotak, hawa hangat merambat ke tubuh. Beberapa menit berlalu, keringat mulai muncul di dahi, lalu mengalir di pelipis.

Tidak ada mesin canggih. Tidak ada ruang sauna dengan pengatur suhu digital. Tidak pula aroma sintetis yang disemprotkan dari pengharum ruangan. Yang ada hanya rebusan daun, rempah, sebuah kotak kayu, dan pengetahuan yang diwariskan dari masa lalu.

Namanya leuhang. Tradisi penguapan tubuh khas masyarakat Sunda itu masih bertahan di Kampung Cisondari, Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Ketika sauna modern dan spa tumbuh dengan segala kemewahannya, leuhang justru memilih bertahan dengan kesederhanaannya. 

Di tempat itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Air dan rempah direbus hingga mendidih. Uapnya kemudian dialirkan ke dalam kotak kayu. Pengunjung duduk di dalamnya dengan tubuh terbungkus, sementara bagian kepala tetap berada di luar.

Lima menit. Sepuluh menit. Tubuh mulai menghangat. Sekitar 15 hingga 20 menit kemudian, keringat biasanya telah membasahi tubuh. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya aktivitas berkeringat di dalam kotak kayu. 

Namun bagi masyarakat yang masih mengenalnya, leuhang adalah bagian dari pengetahuan tradisional tentang bagaimana manusia memanfaatkan alam di sekitarnya. Pengetahuan itulah yang coba dijaga Yayan Nuryana, atau yang lebih akrab disapa Uwa Leuhang.

Sejak 2012, Uwa mempertahankan rumah terapi leuhang miliknya. Empat kotak terapi tersedia untuk pengunjung yang ingin merasakan penguapan dengan cara tradisional.

"Mirip sauna, tapi kita pakai rebusan daun-daunan dan rempah. Uapnya dihirup, badan jadi hangat, keringat keluar, racun ikut kebuang," kata Uwa, Rabu (2/9). 

Bahan-bahannya pun tidak datang dari laboratorium. Sereh, daun salam, pandan, sirih, kayu manis, dan berbagai tanaman lain direbus menjadi satu. Aroma khasnya segera memenuhi ruangan, membawa suasana yang jauh dari kesan spa modern.

Masyarakat sejak lama menggunakan leuhang sebagai ikhtiar untuk membuat tubuh terasa lebih hangat dan ringan. Tradisi ini juga kerap dikaitkan dengan upaya meredakan keluhan seperti masuk angin, pegal-pegal, gejala flu hingga rematik.

Namun, manfaat tersebut merupakan pengalaman dan kepercayaan pengguna. Leuhang tetap bukan pengganti pemeriksaan ataupun pengobatan medis.

Yang menarik, kabar tentang leuhang di Cisondari ternyata berjalan lebih jauh daripada batas kampung. Pelanggan Uwa datang dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi hingga Cirebon.

Bahkan, sejumlah pejabat dan anggota dewan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung disebut rutin datang. Bagi mereka, mungkin ada sensasi sederhana yang dicari: tubuh yang hangat, keringat yang keluar, dan perasaan lebih ringan setelahnya.

"Alhamdulillah banyak yang mengaku badannya jadi ringan. Yang tadinya masuk angin dan sakit badan jadi sembuh," ujar Uwa.

Namun ada satu hal yang membuat tempat itu terasa berbeda. Uwa tidak memasang tarif. Pengunjung cukup memberikan uang seikhlasnya. Bukan karena leuhang tidak bernilai, melainkan karena bagi Uwa, mempertahankan tradisi jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa rupiah yang masuk setiap hari.

Dia seperti sedang merawat sesuatu yang pelan-pelan ditinggalkan zaman. Sebab, semakin modern kehidupan, semakin banyak pula pengetahuan tradisional yang kehilangan tempat. Cara-cara lama memanfaatkan tanaman dan rempah perlahan tersisih oleh produk kemasan, teknologi, dan layanan kesehatan modern.

Di banyak tempat, leuhang bahkan sudah semakin sulit ditemukan. Cisondari menjadi salah satu ruang kecil tempat tradisi itu masih bernapas. Kotak-kotak kayu tetap berjajar. 

Air tetap direbus. Daun dan rempah tetap dicampurkan. Uap tetap dialirkan. Semua dilakukan dengan cara yang nyaris sama seperti dahulu. "Pokoknya banyak sekali manfaatnya bagi tubuh. Sayang kalau sampai hilang," kata Uwa.

Mungkin bagi sebagian orang, leuhang hanyalah sebuah terapi sederhana: duduk dalam kotak kayu, menghirup uap, lalu berkeringat. Tetapi bagi Uwa, setiap kepulan uap menyimpan cerita.

Ada pengetahuan tentang tanaman. Ada kebiasaan yang diwariskan. Ada cara masyarakat Sunda memperlakukan alam sebagai bagian dari kehidupan. Ada pula kegigihan seseorang untuk menjaga semuanya tetap hidup. (gin)


Editor : Inilahkoran