Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Dibuka Selama Trump dan Netanyahu Berkuasa
Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu masih berkuasa di tengah konflik yang berlangsung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berkuasa.
Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Baqer Zolqadr, penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, pada Kamis (17/9).
“Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump yang kriminal dan Netanyahu yang haus darah diturunkan dari kursi kekuasaan mereka, dan ini merupakan tahap pertama pembalasan bangsa Iran,” kata Zolqadr seperti dikutip kantor berita ISNA.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap sasaran Amerika Serikat dan Israel.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut kemudian tidak bertahan dan ketegangan kembali meningkat.
Situasi tersebut turut berdampak terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan situasi di kawasan Selat Hormuz telah berdampak terhadap sekitar 20.000 pelaut, pekerja pelabuhan, dan awak lepas pantai. IMO juga menyoroti dampak gangguan terhadap perdagangan global serta keselamatan pelaut.
Data lalu lintas menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih berlangsung, meski berada di bawah kondisi normal. Reuters melaporkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Kamis, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya sebanyak 16 kapal per hari.
Ketidakpastian mengenai jalur pelayaran tersebut juga terus menjadi perhatian pasar energi. Gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi memengaruhi distribusi minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair ke pasar global.
Pernyataan Zolqadr menunjukkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz masih dikaitkan Iran dengan perkembangan politik dan konflik dengan Amerika Serikat serta Israel.
Hingga kini, lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih menghadapi pembatasan dan risiko keamanan akibat konflik yang berlangsung di kawasan Teluk.***
Editor : JakaPermana

