Isi Buku “Broken Strings” Karya Aurelie Moeremans Jadi Perbincangan Publik
Isi buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth milik Aurelie Moeremans jadi perbincangan publik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Aktris Aurelie Moeremans tengah menjadi sorotan publik usai merilis buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Karya ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup, melainkan ruang pengakuan jujur atas pengalaman traumatis yang dialaminya sejak usia belia.
Judul Broken Strings dipilih sebagai simbol masa muda yang terasa “terputus”, menggambarkan hilangnya rasa aman, kebebasan, dan keutuhan diri akibat peristiwa kelam di masa remaja. Melalui rangkaian fragmen cerita, Aurelie mengajak pembaca menyusuri proses panjang mengenali luka, menerima kenyataan pahit, hingga upaya untuk bangkit dan berdamai dengan masa lalu.
Dalam buku tersebut, Aurelie secara terbuka mengungkap bahwa dirinya merupakan korban child grooming dan kekerasan seksual yang dialaminya ketika berusia 15 tahun. Ia juga menceritakan berbagai bentuk perlakuan kasar yang diterimanya, termasuk kekerasan fisik dan verbal. Hingga kini, fakta bahwa pelaku masih bebas beraktivitas di ruang publik menjadi salah satu kenyataan pahit yang turut disinggung dalam kisahnya.
Pengakuan ini sejatinya bukan hal yang sepenuhnya baru. Aurelie pernah menyampaikan secuil kisah tersebut melalui unggahan di akun Facebook pribadinya sekitar tahun 2013. Namun, melalui buku memoar ini, ceritanya disampaikan dengan lebih utuh, reflektif, dan berangkat sepenuhnya dari sudut pandang korban.
Di sisi lain, semenjak buku tersebut dirilis, Aurelie mengaku ada sosok yang merasa, padahal dia sama sekali tidak menyinggung sosok tersebut dalam bukunya.
"Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri, " tulis Aurelie.
Menariknya, Broken Strings ditulis tanpa upaya romantisasi trauma. Aurelie menegaskan bahwa buku ini merupakan bagian dari proses penyembuhan pribadi, sekaligus bentuk peringatan bagi publik tentang bahaya kekerasan terhadap anak dan remaja yang kerap luput dari perhatian.
Lewat keberaniannya berbagi kisah, Aurelie Moeremans berharap suaranya dapat menjadi penguat bagi para penyintas lain agar tidak merasa sendirian, serta mendorong masyarakat untuk lebih peka dan berpihak pada korban.
Editor : Firda Rachmawati

