Isi Surat Wasiat Ketua SPPG Bandung yang Ditemukan Tewas di Lantai 12 Mal Bandung

Sebelum mengakhiri hidupnya di lantai 12 Kings Shopping Center Bandung, Sopyan meninggalkan surat wasiat yang menyayat hati.

Isi Surat Wasiat Ketua SPPG Bandung yang Ditemukan Tewas di Lantai 12 Mal Bandung
Isi Surat Wasiat Ketua SPPG Bandung yang Ditemukan Tewas di Lantai 12 Mal Bandung

INILAHKORAN.ID - Kepergian Sopyan (26), Kepala SPPG Pameungpeuk Rancamulya 2 Kabupaten Bandung, meninggalkan duka mendalam sekaligus sorotan tajam mengenai pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja. 

Sebelum ditemukan tewas gantung diri di lantai 12 Kings Shopping Center pada Minggu 12 Juli 2026, pemuda ini sempat menuliskan surat wasiat terakhir.

​Surat yang ditulis tangan di atas kertas binder tersebut mengisyaratkan adanya beban psikologis, rasa tidak percaya diri yang mendalam, hingga tekanan pekerjaan yang luar biasa berat yang ia rasakan selama setahun terakhir.

​Isi Surat Wasiat: Permintaan Maaf kepada Keluarga dan Rekan Kerja

​Dalam surat yang ditujukan untuk orang-orang terdekatnya, korban berkali-kali menuliskan kata maaf karena merasa telah mengecewakan ekspektasi orang di sekelilingnya.

​​Korban meminta maaf yang mendalam karena merasa belum bisa menjadi sosok yang dewasa. Secara khusus, ia juga menuliskan pesan emosional kepada seseorang bernama Yula.

​"Yula, maafin Aan-nya. Makasih ya udah mau bertahan... Maafkan Ari yang buat kecewa terus, ekspektasi Yula..." tulisnya.

​Sebagai kepala unit pelayanan gizi di usianya yang masih 26 tahun, korban rupanya memendam kecemasan luar biasa terkait tanggung jawab profesionalnya. Ia merasa tidak pantas menduduki jabatan kepemimpinan tersebut.

​"Kalo dalam kerja, maafkan saya banyak kurangnya. Saya belum pantes mendapatkan posisi ini. Saya tidak bisa bekerja semestinya. Maaf saya beban kalian."

​Di bagian akhir suratnya, korban mendeskripsikan secara jujur pergulatan mental yang ia alami sendiri. Ia menyebut dirinya memiliki kepribadian yang pemalu, mudah stres, dan kerap mengalami kecemasan (anxiety).

​"Untuk diri saya, maafin saya... mental lemah, tidak tahu bersosial... pemalu, mudah stres, mudah deg-degan, pikiran setipis, anxiety."

​Korban juga sempat menutup suratnya dengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah ia terima, meski ia merasa belum mampu membalas kebaikan tersebut dengan baik sebelum akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya.


Editor : Firda Rachmawati