Jabar Perkuat Pengamanan Jalanan: Jegal Begal

MARAKNYA aksi begal membuat rasa aman warga terusik. Gubernur Jawa Barat dan Kapolda Jabar pun bergerak memperkuat pengamanan.

Jabar Perkuat Pengamanan Jalanan: Jegal Begal
PENGAMANAN KETAT: Meningkatnya aksi begal dan kejahatan jalanan yang meresahkan warga Bandung Raya mendapat perhatian serius dari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Pemprov Jabar bersama polisi menyiapkan langkah pengamanan lebih ketat untuk menekan angka kriminalitas.

Oleh: Yuliantono/Cesar Yudistira

Tiga pengemudi ojek online mengantar satu perempuan menuju tujuan yang sama. Bukan karena rombongan, bukan pula karena aplikasi mengalami gangguan. Perempuan itu sengaja memesan tiga pengemudi sekaligus agar dua di antaranya mengawal perjalanan hingga tiba dengan selamat.

Video singkat itu beredar luas di media sosial dan memantik beragam komentar. Ada yang menganggapnya berlebihan, ada pula yang memahami keputusan tersebut. 

Namun, satu hal yang sulit dibantah: ketika seseorang merasa perlu membayar tiga kali lipat demi pulang dengan tenang, rasa aman di jalan tampaknya memang sedang dipertanyakan.

Dalam video yang viral itu, customer mengaku sengaja memesan tiga driver ojek online untuk satu perjalanan karena khawatir menjadi korban kejahatan di jalan. 

Belum diketahui secara pasti lokasi kejadian maupun identitas perempuan yang terekam dalam video tersebut. Meski begitu, video itu menjadi simbol keresahan yang belakangan dirasakan banyak warga, terutama di Bandung Raya.

Maraknya aksi begal dan kejahatan jalanan membuat masyarakat tidak lagi hanya mengubah rute perjalanan, tetapi juga cara mereka pulang. Ada yang memilih tidak keluar malam, ada yang meminta dijemput keluarga, hingga ada yang rela mengeluarkan biaya lebih agar perjalanan terasa lebih aman.

Keresahan itu mendapat perhatian serius Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Menurutnya, meningkatnya aksi begal dan kejahatan jalanan tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa karena telah memengaruhi rasa aman masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama kepolisian kini menyiapkan langkah pengamanan lebih ketat untuk menekan angka kriminalitas dan memulihkan rasa aman masyarakat.

Dedi mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Kapolda Jawa Barat guna merumuskan langkah teknis dan taktis dalam memperkuat pengawasan keamanan, tidak hanya di Bandung Raya tetapi juga di berbagai daerah lain di Jawa Barat yang dinilai memiliki potensi kerawanan tinggi.

"Selanjutnya saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk secara teknis dan taktis melakukan pengamanan di seluruh wilayah Bandung Raya dan seluruh wilayah Jawa Barat," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Selasa (21/7). 

Salah satu langkah yang diusulkan adalah menempatkan aparat bersenjata di sejumlah titik strategis yang selama ini kerap menjadi lokasi rawan tindak kriminal. 

Menurut Dedi, kehadiran aparat di lapangan diharapkan mampu mencegah aksi kejahatan sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk beraktivitas.

"Menempatkan aparat di titik-titik strategis bersenjata, ini usulan saya dan ini adalah bagian untuk menciptakan rasa nyaman dan rasa aman bagi warga masyarakat," ucapnya.

Namun, keamanan bukan semata menjadi tugas aparat. Dedi juga mengajak masyarakat kembali menghidupkan budaya ronda dan patroli lingkungan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat di tingkat RT dan RW.

"Untuk itu mari kita bersama-sama untuk menjaga keamanan lingkungan kita masing-masing. Patroli di setiap RT-nya, di setiap RW-nya, di seluruh sudut-sudut strategis di wilayah kota dan desa yang menjadi potensi terjadinya akses pembegalan, perampokan, dan berbagai aksi kriminal lainnya yang meresahkan warga," katanya.

Menurut Dedi, ancaman terhadap ketertiban masyarakat tidak hanya datang dari aksi begal. Geng motor maupun tawuran juga menjadi persoalan yang harus ditangani bersama.

"Termasuk geng motor dan tawuran antar anak muda maupun tawuran antar orang tua. Saya ucapkan terima kasih, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami akan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat Jawa Barat," tandasnya.

Di lapangan, Polda Jawa Barat juga memperkuat langkah antisipasi. Kepolisian menambah personel patroli pada jam-jam rawan, terutama mulai tengah malam hingga dini hari serta saat akhir pekan dan hari libur.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Kapolda Jabar setelah mengevaluasi sejumlah kasus begal yang terjadi di berbagai daerah.

“Upaya kita di dini hari tentu akan kita lakukan dengan menyesuaikan waktu-waktu rawan. Berarti mulai pukul 00.00 sampai dini hari akan kita perbanyak personel, utamanya pada jam-jam libur,” kata Hendra, Selasa (21/7).

Selain meningkatkan patroli, Kapolda Jabar bersama Wakapolda juga telah memberikan penekanan kepada seluruh kapolres untuk memperkuat langkah pencegahan dan penindakan terhadap kejahatan jalanan.

Polda Jabar juga mengapresiasi masyarakat yang aktif membagikan informasi mengenai aksi kriminal melalui media sosial. Menurut Hendra, laporan warga menjadi salah satu cara efektif untuk memetakan lokasi rawan sekaligus mempercepat pengungkapan kasus.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah memposting kejadian-kejadian tersebut. Itu bentuk kepedulian terhadap situasi kamtibmas di Jawa Barat dan sangat membantu kami dalam melakukan penelusuran,” ujarnya.

Di sisi lain, kepolisian menegaskan masyarakat diperbolehkan melakukan tindakan tegas saat menghadapi pelaku begal, selama dilakukan secara proporsional.

“Perintah Pak Kapolda adalah tindak tegas terukur. Itu tidak hanya kepada polisi, kepada masyarakat pun boleh, dengan catatan tetap tegas dan terukur, jangan sampai menimbulkan akibat yang fatal,” ujar Hendra.

Dia juga mengirimkan peringatan keras kepada para pelaku kejahatan jalanan.

“Kami ingatkan kepada para pelaku, sekecil apa pun yang memberikan teror kepada masyarakat akan kami tindak tegas,” katanya.

Meski demikian, Hendra tetap mengimbau masyarakat segera melaporkan setiap tindak kriminal kepada kepolisian agar dapat segera ditindaklanjuti.

Data kepolisian menunjukkan keresahan warga memang bukan tanpa alasan. Sepanjang Juli 2026, sedikitnya 19 kasus begal menjadi viral di media sosial. Pada periode yang sama, polisi berhasil mengungkap 24 kasus begal di berbagai wilayah Jawa Barat.

Salah satunya terjadi di Flyover Kopo, Kota Bandung, pada 14 Juli 2026. Dua pelaku berinisial RP dan FF mengadang seorang pekerja menggunakan senjata tajam sebelum merampas sepeda motor dan telepon genggam korban. Keduanya berhasil ditangkap Satreskrim Polrestabes Bandung sekitar tiga jam setelah kejadian.

Kasus lain terjadi di kawasan Cikawao-Melong Kaler, Kota Bandung, ketika seorang pengemudi ojek online pengantar makanan menjadi korban pembegalan. Polisi berhasil mengamankan pelaku sekitar 35 menit setelah laporan diterima. 

Sementara di Kabupaten Cianjur, polisi juga menangkap komplotan remaja yang membawa senjata tajam saat berkeliling pada dini hari selama masa libur sekolah.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan mayoritas pelaku masih menjadikan sepeda motor sebagai sasaran utama.

“Selama Juli yang kami data ada sekitar 19 kasus yang viral di media sosial. Dari jumlah itu, bahkan ada 24 kasus yang berhasil kami ungkap,” kata Hendra.

Meski memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam rangkaian kasus tersebut, Hendra mengingatkan bahwa setiap aksi kriminal tetap meninggalkan luka dan trauma. 

“Sampai saat ini tidak ada korban jiwa. Korban hanya mengalami luka dan ketakutan,” pungkasnya. (gin)


Editor : Inilahkoran