Jadi Pemicu Banjir di 12 RW, Warga Padalarang Tutup Sementara Proyek Pembangunan Perumahan Elit The Emeralda Resort

Proyek pembangunan perumahan elit The Emeralda Resort yang berlokasi di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memicu kekesalan warga.

Jadi Pemicu Banjir di 12 RW, Warga Padalarang Tutup Sementara Proyek Pembangunan Perumahan Elit The Emeralda Resort

INILAHKORAN, Ngamprah - Proyek pembangunan perumahan elit The emeralda resort yang berlokasi di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memicu kekesalan warga.

Pasalnya, warga menilai keberadaan proyek hunian elit yang berada di puncak Gunung Kacapi itu disebut-sebut menjadi pemicu bencana banjir yang kerap menerjang perrmukiman warga saat hujan turun. 

Imbasnya, warga pun menutup akses jalan menuju proyek perumahan dan meminta seluruh kegiatan penggalian serta pengurugan (cut and fill) dihentikan sementara. 

Tak cuma itu, mereka menuntut pihak perusahaan bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan serta segera membenahi saluran air.

"Kami secara spontan mendatangi proyek perumahan untuk stop sementara kegiatan. Kita minta perusahaan membenahi saluran air karena tiap hujan selalu banjir," kata salah seorang warga Hidayat (60) kepada wartawan.

Hidayat menjelaskan, adanya pembangunan tersebut membuat luapan air dari puncak membawa lumpur tanah merah masuk ke pemukiman masyarakat yang berada di bawah lokasi proyek. 

Menurutnya, limpasan air banjir itu berdampak terhadap 12 RW di Desa Jayamekar, di antara Perumahan Binakarya, Perumahan Regenerasi, pemukiman warga Kampung Gunungbentang, serta Kampung Gantungan. 

"Jadi yang terdampak banjir itu ada 12 RW. Kita minta pengembangan tanggung jawab. Karena keluhan masyarakat ini sudah beberapa kali disampaikan agar benahi saluran air, tapi tak pernah digubris," tuturnya.

Kendati begitu, ungkap Hidayat, warga tak berniat menutup permanen aktivitas proyek perumahan The Emeralda Resort secara permanen apalagi jika pengembangan sudah mengantongi izin. 

Sebab, para warga mendukung kegiatan investasi asalkan mentaati kaidah-kaidah lingkungan.

"Kita mendukung investasi, jadi penutupan ini sementara tidak permanen. Kami ingin ada kejelasan dulu tanggung jawab dari dampak lingkungan," ungkapnya. 

Warga lainnya, Hendar (41) mengatakan, Kampung Gunung Bentang RT01/14, Desa Jayamekar mengatakan banjir kerap terjadi sejak 2 tahun terakhir adanya aktivitas pematangan tanah di puncak Gunung Kacapi. 

Terbaru, sebut dia, banjir dan lumpur melanda puluhan pemukiman, pada Jumat 18 April 2025 kemarin. 

"Kejadian banjir terbaru kemarin pukul 16:00 WIB. Air dan lumpur merah masuk jalan dan rumah. Ketinggian air antara 10-15 centimeter tapi deras. Selain itu tanah merah sangat tebal jadi sulit dibersihkan," kata Hendar.

Menurutnya, pihak perusahaan beberapa kali menawarkan kompensasi kepada warga, namun Hendar menolaknya lantaran keinginannya justru pengembangan membenahi mitigasi banjir. 

"Saya gak mau kompensasi, benahi jalan air. Jangan cuma cari keuntungan, tolong perhatikan lingkungan," tuturnya.*** 


Editor : Ahmad Sayuti