Jaga Harap dalam Pengap

Jaga Harap dalam Pengap
PJJ: Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon belum menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyusul dampak erupsi Anak Krakatau. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung normal dengan mengoptimalkan penggunaan masker.

MESKI para siswa harus mengenakan masker saat bersekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon tetap menggelar proses belajar mengajar secara normal atau tatap muka.

Oleh: Maman Suharman

Pagi hari di salah satu sudut Kota Cirebon, matahari tampak sedikit temaram terhalang lapisan tipis material vulkanik yang terbawa angin jauh dari Selat Sunda. Namun, gerbang sekolah tetap dibuka lebar.

Langkah-langkah kaki kecil para siswa tetap bergegas memenuhi koridor. Bagi mereka, ini bukan sekadar tentang mengejar kurikulum, melainkan tentang menjaga rutinitas hidup yang berharga.

Disdik Kota Cirebon menilai kondisi kualitas udara di wilayahnya masih dalam batas toleransi aman untuk KBM tatap muka.

Alih-alih mengalihkan layar gawai menjadi ruang kelas darurat yang sering kali memicu kejenuhan, kebijakan wajib masker dioptimalkan sebagai benteng pertahanan utama anak-anak.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Kota Cirebon, Ade Cahyaningsih mengatakan kebijakan pendidikan akan disesuaikan dengan tingkat paparan abu vulkanik dan kondisi kesehatan peserta didik.

“Langkah-langkah mitigasi untuk penanganan anak didik disesuaikan dengan tinggi atau besarnya dampak yang dirasakan dari erupsi Anak Krakatau,” kata Ade, Selasa (8/9).

Namun tentu saja, ada pemandangan berbeda di lapangan sekolah saat jam istirahat tiba. Tak ada lagi tawa lepas anak-anak yang berlarian saling kejar di bawah terik matahari. Aktivitas luar ruangan dipangkas demi keselamatan.

Anak-anak diarahkan untuk menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, saling berbagi cerita dengan suara yang sedikit teredam kain masker.

Bagi para guru, mengajar dengan masker bukanlah perkara mudah. Suara harus ditekan lebih lantang agar materi bisa menembus pembatas kain dan sampai ke telinga para murid.

Menurut Ade, tingkat paparan abu vulkanik di setiap daerah berbeda. Bandung dan Bogor masih menjalankan pembelajaran secara normal, sedangkan sejumlah daerah yang mengalami paparan lebih tebal telah menerapkan PJJ.

“Kalau dampaknya tidak terlalu besar, kami mengimbau masyarakat menjaga kesehatan. Kami mengikuti arahan kementerian dan menerapkannya secara fleksibel,” ujarnya.

Sebagai langkah awal mitigasi, Disdik Kota Cirebon meminta seluruh sekolah memasang poster berisi imbauan penggunaan masker. Arahan tersebut telah disampaikan kepada ketua forum sekolah pada Senin siang.

“Saya sudah memberikan arahan agar semua sekolah membuat poster imbauan menggunakan masker,” kata Ade.

Disdik memilih menyampaikan imbauan melalui poster dan komunikasi internal, bukan surat edaran resmi. Langkah itu diambil agar pesan perlindungan kesehatan tetap tersampaikan tanpa menimbulkan kepanikan di kalangan peserta didik dan orang tua.

“Bentuk imbauannya tidak melalui surat. Kalau melalui surat, kesannya situasinya sangat genting,” tuturnya.

Ade mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap abu vulkanik sebagai debu biasa. Material tersebut mengandung partikel yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan.

“Abu vulkanik itu tidak akan habis kalau hanya disapu. Biasanya baru hilang setelah turun hujan, sementara sampai hari ini belum hujan,” katanya.

Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar di Kota Cirebon tetap berjalan seperti biasa. Namun, Disdik terus memantau perkembangan kondisi dan membuka kemungkinan menerapkan langkah lanjutan apabila paparan abu vulkanik meningkat.

“Kesehatan anak didik harus tetap terjaga dan pembelajaran tetap berjalan. Namun, kami sangat waspada terhadap perkembangan dampak erupsi ini,” pungkas Ade. (bsf)


Editor : Inilahkoran