Jangan Keliru! Ini Perbedaan Waktu Takbir Idul Fitri dan Idul Adha Menurut Buya Yahya

Buya Yahya menjelaskan terkait adanya perbedaan waktu takbir saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Jangan Keliru! Ini Perbedaan Waktu Takbir Idul Fitri dan Idul Adha Menurut Buya Yahya
Buya Yahya.

INILAHKORAN - Setiap kali dua hari raya besar dalam Islam tiba, lantunan takbir "Allahu Akbar" menggema di berbagai pelosok negeri, membangkitkan suasana haru dan suka cita. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa waktu pelaksanaan takbir di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha ternyata memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

Buya Yahya, ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah di Cirebon, menjelaskan hal ini secara rinci melalui kanal YouTube-nya pada Senin, 26 Mei 2025. 

Menurutnya, meskipun perbedaannya terlihat sepele, namun penting untuk dipahami agar tidak keliru dalam mengamalkan ibadah yang agung ini.

Dua Jenis takbir: Mutlak dan Muqayyad
Buya Yahya menyebutkan bahwa dalam tradisi Islam, takbir terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir mutlak (atau dikenal juga sebagai takbir mursal) dan takbir muqayyad.

takbir Mutlak: Bebas dikumandangkan kapan saja tanpa terikat waktu, dan biasa terdengar di tempat-tempat umum seperti pasar, jalan, atau rumah.

takbir Muqayyad: Hanya dibaca setelah shalat wajib, termasuk shalat Idul Adha.

Perbedaan Waktu takbir Idul Fitri dan Idul Adha
1. takbir Idul Fitri
Menurut pandangan mayoritas ulama dalam mazhab Syafi'i, takbir Idul Fitri adalah takbir mutlak. Waktu pelaksanaannya dimulai sejak malam hari raya hingga matahari terbenam di hari tersebut.
takbir Idul Fitri dimulai dari malam hari raya sampai matahari terbenam. Setelah shalat Id, takbir tidak lagi dianjurkan,” terang Buya Yahya.

Namun, ia juga menyampaikan bahwa menurut Imam Nawawi, takbir masih boleh dilantunkan oleh petugas masjid usai shalat, karena sifatnya yang bebas.

2. takbir Idul Adha
Sebaliknya, Idul Adha menggunakan dua jenis takbir sekaligus: mutlak dan muqayyad.

takbir mutlak dimulai sejak malam 1 Dzulhijjah hingga hari Tasyrik.

takbir muqayyad dimulai sejak selesai shalat Subuh pada 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) hingga selesai shalat Ashar pada 13 Dzulhijjah.

“Begitu imam mengucapkan salam setelah shalat, langsung bisa dikumandangkan takbir muqayyad,” jelas Buya Yahya.

Anjuran Memperbanyak Zikir dan Doa
Setelah mengumandangkan takbir, terutama takbir muqayyad pada Idul Adha, Buya Yahya menyarankan untuk memperbanyak zikir dan doa.

“Setelah takbir muqayyad, segera isi waktu dengan zikir dan doa, karena inilah momen penuh keberkahan,” tandasnya.

Menyemarakkan Malam Hari Raya
Tradisi menggemakan takbir di malam hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, juga memiliki nilai ibadah tersendiri. Buya Yahya mengatakan bahwa menyuarakan takbir di jalan-jalan dan pasar adalah bentuk semarak syiar Islam.
“Konvoi takbir di jalan merupakan bentuk kegembiraan dalam merayakan kemenangan,” ujarnya.

Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam diharapkan bisa lebih tepat dalam menjalankan sunnah takbir sesuai waktunya, sehingga ibadah yang dilakukan menjadi lebih bernilai dan tidak keluar dari tuntunan syariat.


Editor : Firda Rachmawati