Jenal Mutaqin Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Warga, Gunung Batu Jadi Contoh

Warga RW 08 Gunung Batu, Bogor Barat, berhasil mengurangi sampah yang dibuang ke TPAS Galuga.

Jenal Mutaqin Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Warga, Gunung Batu Jadi Contoh
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin saat blusukan ke wilayah untuk mengingatkan warga menjaga lingkungan dan menangani persampahan.

INILAHKORAN.ID-Warga RW 08 Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, menunjukkan upaya Pengelolaan Sampah berbasis masyarakat. Melalui Bank Sampah dan pengolahan mandiri, warga berhasil menekan jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga.

Ketua RW 08 Gunung Batu, Eko Romli, mengatakan wilayahnya dihuni sekitar 57 kepala keluarga (KK) atau 217 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 warga telah menjadi nasabah bank sampah yang dibentuk secara mandiri.

Menurut Eko, bank sampah tersebut baru berjalan sekitar tiga bulan. Karena itu, edukasi dan pemahaman kepada masyarakat masih perlu terus ditingkatkan agar semakin banyak warga terlibat.

"Memang belum maksimal, karena kami baru berjalan tiga bulan. Tentu ini juga menjadi PR kita semua bagaimana ke depan edukasi ataupun pemahaman kepada warga harus terus kita lakukan,” terang Eko.

Sampah ke Galuga Turun Jadi 17,24 Persen

Eko menjelaskan, pihaknya pernah melakukan uji coba penghitungan sampah di salah satu RT untuk mengetahui volume sampah yang diangkut armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menuju TPAS Galuga.

Dari penghitungan tersebut, sampah yang dibuang dari RT 03 sebelumnya mencapai rata-rata 165,3 kilogram per hari.

Namun, berdasarkan penghitungan ulang pada 20 Oktober 2026, jumlah sampah yang dikirim ke TPAS Galuga disebut hanya tersisa 17,24 persen.

"Totalnya itu kalau kita hitung secara rata-rata itu di 165,3 kilogram per hari. Itu sampah di RT 3 saja. Di bulan Oktober ketika tanggal 20 Oktober kemarin kami coba hitung lagi, ternyata yang kami buang ke Galuga saat ini hanya 17,24 persen," jelasnya.

Sementara itu, sampah yang tidak dibuang ke TPAS Galuga diolah secara mandiri oleh warga. Sebagian di antaranya dimanfaatkan menjadi pupuk kompos dan kerajinan tangan.

Eko berharap upaya tersebut bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk melihat sampah bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.

"Mudah-mudahan ini menjadi motivasi kepada warga, bahwa sampah ini juga bisa menghasilkan income atau ekonomi tambahan," bebernya.

Jenal Mutaqin Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat perlu terus dijaga dan diperkuat. Salah satu caranya melalui pemilahan sampah sejak dari rumah tangga serta kegiatan kelompok masyarakat, seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Kelompok Tani Dewasa (KTD).

Menurut Jenal, keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan semangat dan konsistensi warga. Dukungan aparat wilayah, mulai dari camat, lurah, RT hingga RW, juga diperlukan untuk mengajak masyarakat mengelola sampah dengan baik.

"Ini butuh semangat dan konsistensi dari warga. Di samping aparat wilayah, camat, lurah, RT, dan RW yang terus mengajak warga untuk mengelola sampah dengan baik," ungkap Jenal, Jumat, 30 Oktober 2026.

Jenal menambahkan, pengelolaan lingkungan yang baik juga dapat memberikan dampak positif dalam mengantisipasi risiko bencana, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem.

"Kalau pengelolaannya baik, kami hasilkan hal yang positif. Banjir bisa kami tangani, pupuk bisa kami hasilkan, sampah nonorganik bisa jadi kerajinan dan dijual. Tinggal tadi, butuh saling support," jelasnya.***


Editor : JakaPermana