Jubah Biru Langit untuk Sang Musisi

Jubah Biru Langit untuk Sang Musisi
Foto Net

ADA beban tak kasat mata hinggap di pundak Enzo Fernandez saat ia melangkah keluar dari terowongan Stadion Etihad pada pekan pertama September 2026. Namun dia melewatinya dengan sempurna.

Oleh: Bsafaat

Di punggungnya, tersemat nomor 17—nomor keramat yang baru saja ditinggalkan sang legenda, Kevin De Bruyne.

Di atas kepalanya, tersemat label sebagai pemain termahal dalam sejarah sepak bola Inggris dengan nilai transfer £125 juta. Dialah manusia pertama yang menyentuh angka di atas £100 juta dalam dua transfer berbeda.

Namun, cerita debutnya bersama Manchester City melawan Coventry City asuhan Frank Lampard, Sabtu (6/9) bukanlah tentang angkaangka gila tersebut. Ini adalah cerita tentang keteguhan mental, takdir yang datang lebih cepat, dan bagaimana sepak bola selalu punya cara untuk menyembuhkan luka masa lalu.

Sore itu, Enzo sebenarnya dijadwalkan memulai laga dari bangku cadangan. Manajer Enzo Maresca tampaknya ingin memberikan waktu bagi gelandang Argentina ini untuk bernapas dan beradaptasi dengan atmosfer Manchester.

Namun, takdir berkata lain.

Cedera mendadak yang dialami gelandang muda Nico O’Reilly saat pemanasan memaksa Maresca mengubah rencana di menit-menit akhir.

Enzo diminta melepas rompi latihannya.

Tanpa sempat gugup, ia langsung dilempar ke dalam ring. Begitu peluit pertama dibunyikan, Enzo menunjukkan mengapa ia dijuluki “El Músico” (Sang Musisi). Ia melupakan egonya, menjabat tangan Anderson, dan mulai memimpin simfoni permainan.

Pertahanan berlapis Coventry membuat Erling Haaland dan kolega frustrasi.

Di sinilah kualitas insani seorang Enzo Fernandez berbicara. Di saat ribuan pasang mata meragukan fleksibilitasnya setelah kepindahan kontroversial dari Chelsea, Enzo tetap tenang.

Pada menit ke-26, keajaiban itu lahir.

Menangkap ruang sempit yang tak terlihat oleh orang lain, Enzo melepaskan umpan visioner melengkung yang membelah pertahanan lawan.

Bola mendarat dengan manis di kaki Antoine Semenyo, yang kemudian mengirimkan umpan silang matang untuk diselesaikan oleh sundulan tajam Haaland.

Gol! Stadion Etihad bergemuruh, bukan hanya merayakan keunggulan, tetapi menyambut sang dirigen baru yang telah menemukan ritmenya .Ada riak emosi yang tertangkap kamera setelah gol tersebut.

Enzo tidak merayakannya dengan keangkuhan seorang bintang mahal. Ia berlari ke arah Haaland, memeluknya erat, dan menunjuk ke arah tribun pendukung City seolah ingin berkata, “Saya di sini untuk kalian.” Manajer Enzo Maresca pun mengaku lega perjudiannya memasang gelandang Argentina itu sejak menit awal berbuah manis.

“Dia memang akan mendapatkan menit bermain, tetapi pada akhirnya dia bermain sejak awal dan saya pikir dia cukup bagus,” lugas pelatih asal Italia itu. (bsf )


Editor : Inilahkoran