Kasus SMAN 5 Bandung. Disdik Jabar Soroti Lemahnya Pengawasan di Luar Sekolah
Kasus kematian siswa SMAN 5 Bandung yang menyeret enam pelajar sebagai tersangka, menjadi sinyal serius rapuhnya pengawasan terhadap remaja di luar lingkungan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kasus kematian siswa SMAN 5 Bandung yang menyeret enam pelajar sebagai tersangka, menjadi sinyal serius rapuhnya pengawasan terhadap remaja di luar lingkungan sekolah.
Dinas Pendidikan Jawa Barat pun menegaskan, tragedi ini tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan individu, melainkan kegagalan kolektif dalam ekosistem pendidikan.
Kepala Disdik Jabar, Purwanto memastikan, pihaknya tetap mengikuti proses hukum yang berjalan, sekaligus menjamin hak pendidikan para pelajar yang kini berstatus tersangka.
"Kita ngikutin proses hukumnya, kemudian tinggal nanti kalau ini dimasuk ke Lapas anak mungkin ya, agar hak pendidikannya tetap dipenuhi," kata Purwanto di Kota Bandung, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan, peristiwa ini menjadi catatan penting bahwa tanggung jawab pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ketika kontrol melemah di luar jam sekolah, potensi risiko terhadap pelajar justru meningkat.
"Catatannya bahwa semua pihak mesti bekerja sama, karena pendidikan itu ekosistem," ucapnya.
Fakta bahwa kejadian berlangsung pada malam hari, usai berbuka puasa, memperkuat argumen bahwa sekolah tidak memiliki kendali penuh atas aktivitas siswa. Dalam konteks ini, peran keluarga dan lingkungan menjadi krusial.
Purwanto juga menyoroti pelanggaran terhadap kesepakatan antara sekolah dan orangtua terkait larangan penggunaan kendaraan bermotor oleh pelajar. Ia menyebut, aturan tersebut seharusnya menjadi garis tegas dalam pengawasan anak.
"Padahal di surat pernyataan pakta integritas antara sekolah sama orangtua, itu anak nggak boleh pakai kendaraan bermotor dan kalau ada yang menggunakan kendaraan bermotor menjadi tanggung jawab orangtua,” katanya.
Menurut dia, mustahil bagi sekolah untuk mengawasi siswa sepanjang waktu. Karena itu, dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen, orangtua, guru, hingga masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi perkembangan anak.
"Mereka anak kami, anak kita, bukan anak saya, bukan anak sekolah, tapi anak kita, anak guru sama kepala sekolahnya, juga anak orang tuanya dan anak masyarakat itu. Masyarakat juga mesti kerjasama, membantu, menciptakan suasana situasi yang support terhadap anak-anak," tandasnya.***
Editor : JakaPermana


