Kawasan Balai Kota Bandung Bersih dan Tertata, Pengelolaan Sampah Sistematis Jadi Kunci

Kawasan Balai Kota Bandung kini bersih, dan tertata rapi berkat pengelolaan sampah yang sistematis. Taman Sejarah, Plaza Balai Kota dan Taman Dewi Sartika memisahkan sampah organik dan anorganik dengan daun-daun diubah menjadi kompos. Sementara residu lainnya, dikumpulkan untuk pengelolaan lebih lanjut.

Kawasan Balai Kota Bandung Bersih dan Tertata, Pengelolaan Sampah Sistematis Jadi Kunci
Kawasan Balai Kota Bandung kini bersih, dan tertata rapi berkat pengelolaan sampah yang sistematis. /Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Kawasan Balai Kota Bandung kini bersih, dan tertata rapi berkat pengelolaan sampah yang sistematis. Taman Sejarah, Plaza Balai Kota dan Taman Dewi Sartika memisahkan sampah organik dan anorganik dengan daun-daun diubah menjadi kompos. Sementara residu lainnya, dikumpulkan untuk pengelolaan lebih lanjut.

“Dalam tiga minggu, minimal ada sekitar enam kubik residu sampah,” kata Koordinator Taman Balai Kota Bandung, Boyke Maulana, Rabu 10 Desember 2025.

Dijelaskan ia, teknologi juga dimanfaatkan untuk menunjang pengelolaan sampah. Mesin pencacah daun, digunakan untuk mengubah sampah daun menjadi kompos. Sedangkan mesin pencacah plastik, membantu mengurangi volume tumpukan plastik. Plastik yang telah dicacah, kemudian disetorkan ke bank sampah di Babakan Sari, Kiaracondong bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Volume sampah di kawasan Balai Kota Bandung, dikemukakan ia berkisar sekitar empat kubik per hari. Terdiri dari sampah basah dan kering, organik maupun anorganik. Namun saat ada kegiatan khusus seperti event kedinasan, lomba lari atau kegiatan komunitas volume sampah biasanya meningkat. Untuk itu, petugas taman dan cleaning service terbiasa melakukan pemilahan langsung setelah penarikan sampah agar tetap terkendali.

“Kami sudah membiasakan rekan-rekan taman, dan petugas cleaning service untuk langsung melakukan pemilahan setelah penarikan sampah,” ucapnya.

Boyke menyebut, kegiatan rutin pengelolaan sampah di kawasan Balai Kota Bandung dilakukan oleh delapan petugas setiap hari. Kawasan ini dibagi menjadi tiga wilayah utama yakni Plaza Balai Kota, Taman Sejarah dan Taman Dewi Sartika. Ia menambahkan, kesulitan dalam pengelolaan biasanya muncul jika ada kerusakan mesin. Namun selain itu, kegiatan berjalan normal.

Pengunjung yang datang ke kawasan Balai Kota Bandung pun dituturkannya beragam, mulai dari anak PAUD, TK, siswa sekolah hingga dewasa dan lansia. Anak-anak PAUD dan TK, biasanya menerima sosialisasi tentang pengelolaan sampah sebelum memasuki area. “Intinya, kami tekankan agar mereka membuang sampah pada tempatnya. Soal memilah organik atau non-organik, itu bisa kami proses. Yang penting kesadarannya dulu,” ujar dia.

Sambung ia, fasilitas tempat sampah tersedia di beberapa titik namun tidak berlebihan. Konsep ini, sengaja diterapkan karena kawasan tersebut adalah taman bukan tempat pembuangan sampah. Ia mengatakan, jumlah tempat sampah yang terbatas juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat.

Tingkat kesadaran pengunjung pun, diutarakan Boyke bervariasi. Banyak yang sudah memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya, namun masih ada yang memerlukan edukasi tambahan. Untuk pengunjung yang belum memahami, petugas kadang memberikan trash bag agar tetap membuang sampah pada tempatnya.

"Beberapa komunitas, seperti komunitas lari dan sepeda bahkan sudah membawa kantong sampah sendiri untuk menjaga kebersihan," jelas Boyke.

Rata-rata kunjungan di kawasan Balai Kota Bandung pun berbeda-beda. Pada hari kerja, pengunjung biasanya berasal dari kunjungan resmi seperti dari kabupaten/kota lain atau anggota dewan. Pada hari libur, pengunjung lebih banyak berasal dari warga masyarakat. Komunitas yang paling sering hadir adalah komunitas senam, dan bela diri pada Sabtu dan Minggu serta komunitas sepeda.

"Anak-anak sekolah juga sering memanfaatkan area taman untuk kegiatan outdoor, misalnya siswa SD Banjarsari atau SMK 1 di Jalan Wastukancana," tandas dia.***


Editor : JakaPermana