Kemarau Datang Air Bersih Menghilang

Kemarau Datang Air Bersih Menghilang
KEKERINGAN MELUAS: Kekeringan makin meluas hingga berdampak pada krisis air bersih.

Oleh: Cesar Yudistira

INILAH, Bandung - Kekeringan mulai mengubah keseharian warga Jawa Barat. Air yang biasanya mengalir dari sumur dan keran kini harus didatangkan dari tempat lain.

Bagi sebagian warga, datangnya mobil tangki menjadi penanda, musim kering bukan lagi sekadar perubahan cuaca. Air bersih kini harus dihemat, ditampung, dan digunakan untuk kebutuhan yang paling penting.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat, krisis air bersih hingga 18 Agustus 2026 telah berdampak pada 519.687 jiwa dari 160.862 kepala keluarga (KK). Mereka tersebar di 387 desa/kelurahan dan 175 kecamatan di Jawa Barat.

“Berdasarkan data infografis pembaruan per 18 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, bencana kekeringan telah berdampak pada 175 kecamatan yang tersebar di 387 desa/kelurahan di Jawa Barat. Secara total, dampak kekeringan menyasar 160.862 KK atau sekitar 519.687 jiwa,” ujar Pranata Humas BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat, Rabu (19/8). 

Angka tersebut menggambarkan luasnya persoalan yang kini dihadapi Jawa Barat. Kekeringan tidak hanya menyentuh satu atau dua wilayah, tetapi bergerak dari kawasan perkotaan hingga perdesaan.

Untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, pemerintah daerah bersama berbagai instansi dan elemen masyarakat terus mengirimkan air bersih. Hingga pembaruan terakhir, total 11.121.000 liter air telah didistribusikan ke berbagai wilayah terdampak.

“Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, pemerintah dan berbagai pihak telah menyalurkan total 11.121.000 liter air bersih,” kata Hadi.

Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling besar. Sebanyak 180.247 jiwa dari 55.958 KK di 123 desa/kelurahan dan 30 kecamatan mengalami dampak kekeringan.

“Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terdampak paling besar, yakni 180.247 jiwa dari 55.958 KK yang tersebar di 123 desa/kelurahan dan 30 kecamatan. Wilayah tersebut menerima distribusi air bersih sebanyak 1.743.500 liter,” terang Hadi.

Jumlah warga terdampak di Bogor menjadi gambaran bagaimana kekeringan dapat mengubah rutinitas masyarakat. Ketika sumber air tidak lagi mencukupi, kebutuhan rumah tangga bergantung pada pasokan yang datang dari luar.

Kabupaten Bekasi menempati urutan kedua dalam jumlah warga terdampak, yakni 61.886 jiwa dari 20.187 KK yang tersebar di 32 desa/kelurahan dan 11 kecamatan.

Namun, Bekasi justru menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbesar di Jawa Barat. Total pasokan yang telah disalurkan mencapai 5.322.800 liter.

“Kabupaten Bekasi menempati urutan kedua dengan 61.886 jiwa terdampak dari 20.187 KK di 32 desa/kelurahan dan 11 kecamatan. Distribusi air bersih di sana mencapai 5.322.800 liter, menjadi distribusi air terbesar di Jawa Barat,” lanjut Hadi.

Perbedaan antara jumlah warga terdampak dan volume air yang disalurkan menunjukkan kebutuhan setiap daerah tidak sama.

“Data tersebut menunjukkan, dampak kekeringan dan kebutuhan penyaluran air bersih tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah penduduk terdampak,” kata Hadi.

Krisis air juga menjalar ke wilayah lain. Kabupaten Purwakarta mencatat 39.409 jiwa terdampak dari 12.885 KK. Kota Sukabumi menyusul dengan 31.037 jiwa, sementara Kabupaten Bandung mencatat 29.696 jiwa.

Kabupaten Tasikmalaya mengalami dampak pada 29.014 jiwa, Kabupaten Karawang 24.315 jiwa, dan Kota Tasikmalaya 16.951 jiwa.

Selanjutnya, Kabupaten Cianjur mencatat 16.277 jiwa terdampak. Kota Cirebon 12.735 jiwa, Kabupaten Sukabumi 12.584 jiwa, Kabupaten Ciamis 8.076 jiwa, dan Kota Banjar 8.068 jiwa.

Wilayah lain yang terdampak meliputi Kabupaten Pangandaran dengan 7.975 jiwa, Kabupaten Bandung Barat 6.131 jiwa, Kabupaten Garut 5.687 jiwa, dan Kabupaten Indramayu 5.512 jiwa.

Kabupaten Majalengka mencatat 4.899 jiwa, Sumedang 4.042 jiwa, Subang 3.463 jiwa, dan Kota Bandung 3.425 jiwa.

Krisis air juga dirasakan 3.100 warga Kota Cimahi, 2.700 warga Kota Bekasi, 1.918 warga Kota Depok, hingga 540 warga Kota Bogor. Sementara itu, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan masih tercatat belum terdampak.

“Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dalam pembaruan data kali ini tercatat belum mengalami dampak kekeringan, dengan angka nol jiwa, nol KK, serta belum menerima distribusi air bersih,” ungkap Hadi.

Jutaan Liter 

Sebelas juta liter lebih air yang telah mengalir ke wilayah terdampak menjadi bukti bahwa penanganan krisis dilakukan bersama-sama.

BPBD Jawa Barat menjadi penyuplai terbesar dengan 6.865.200 liter air. Palang Merah Indonesia (PMI) menyumbang 1.803.000 liter, sementara PDAM menyalurkan 1.761.000 liter.

Dukungan juga datang dari berbagai pihak. Komunitas menyalurkan 288.500 liter, dunia usaha 217.300 liter, Baznas 100.000 liter, BBWS 82.000 liter, dan Kodim 4.000 liter.

Namun, distribusi air pada dasarnya merupakan langkah untuk memenuhi kebutuhan warga dalam jangka pendek. Selama sumber air belum kembali pulih, kebutuhan itu akan terus berulang.

Satu tangki air mungkin cukup untuk mengisi kembali persediaan sebuah kampung. Tetapi ketika keran kembali kering, kebutuhan yang sama akan datang lagi.

Karena itu, angka 519.687 jiwa bukan sekadar catatan dalam laporan kebencanaan. Di baliknya terdapat rumah tangga yang harus mengatur ulang penggunaan air, warga yang menunggu kedatangan tangki, dan kehidupan sehari-hari yang berjalan di tengah sumber air yang semakin terbatas.

Hadi mengatakan, data kekeringan akan terus diperbarui berdasarkan laporan dari BPBD kabupaten dan kota di Jawa Barat.

“Data ini terus kami perbarui berdasarkan laporan dari BPBD kabupaten/kota se-Jawa Barat,” pungkasnya. (gin)


Editor : Inilahkoran