Kemarau Panjang, DKPP KBB Siapkan Pompa Air dan Teknik Hemat Air
Pemkab Bandung Barat sudah menyiapkan strategi untuk melindungi pertanian dari ancaman kemarau panjang dampak El Nino, yakni dengan menyiapkan pompa air
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Fenomena El Nino yang diprediksi memicu musim kemarau panjang menjadi tantangan serius, khususnya bagi sektor pertanian di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Menyikapi risiko tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Ketahanan Pangan dan pertanian (DKPP) menyusun serangkaian langkah strategis, mulai dari memperkuat infrastruktur pengairan, mendistribusikan bantuan peralatan, hingga mengubah pola tanam agar produktivitas lahan tetap terjaga dan dampak kekeringan dapat ditekan seminimal mungkin.
Kepala DKPP KBB, Lukmanul Hakim menjelaskan, persiapan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada penyediaan air, namun juga peningkatan ketahanan lahan dan pengetahuan petani.
"Strategi yang diterapkan meliputi optimalisasi jaringan irigasi, penyesuaian jadwal tanam, hingga pengenalan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi minim air," kata Lukmanul, Rabu (10/6/2026).
Lukmanul menjelaskan, upaya ini sangat penting dilakukan mengingat data lapangan mencatat ada sekitar 2.302 hektare lahan pertanian yang berpotensi terdampak, terutama sawah tadah hujan dan kawasan yang tidak memiliki akses irigasi memadai.
“Kami tidak hanya mengandalkan perbaikan saluran air semata, tetapi juga mengubah cara bertani agar lebih efisien. Petani kami dorong menggunakan metode hemat air, memanfaatkan mulsa, serta beralih ke tanaman yang tidak terlalu bergantung pada curah hujan tinggi. Semua ini dilakukan agar saat musim kemarau tiba, mereka tidak langsung terpuruk,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, lanjut Lukmanul, pemerintah telah mendapatkan bantuan 122 unit pompa air dari Kementerian pertanian untuk program pompanisasi massal.
"Alat ini berfungsi menyedot air dari sungai, danau, atau sumur untuk dialirkan ke lahan kritis," ujarnya.
Tak cuma itu, lanjut Lukmanul, pemerintah daerah juga tengah mengajukan tambahan 43 unit pompa lagi, dengan target mampu melayani kebutuhan air di 825 hektare areal persawahan.
"Selain itu, seluruh jaringan irigasi, baik yang berbasis pompa maupun saluran alami, sedang diperiksa dan diperbaiki agar fungsinya maksimal," ucapnya.
Di sisi lain, pendekatan budidaya juga diubah secara bertahap, petani disarankan mengganti sebagian lahan padi dengan palawija atau menanam varietas unggul seperti padi Inpago dan Inpari 42 yang terbukti mampu bertahan meski pasokan air terbatas.
"Penerapan Sistem Intensifikasi Padi (SRI) juga digalakkan untuk menghemat penggunaan air hingga 40 persen dibandingkan cara konvensional. Pendampingan langsung dilakukan oleh penyuluh pertanian, dibantu unsur TNI dan Polri untuk memastikan informasi dan bantuan tepat sasaran," paparnya.
Meskipun kondisi saat ini masih terkendali dengan produksi gabah mencapai 112.351 ton selama Januari–Mei 2026 atau setara 49,4 persen dari target tahunan, Lukmanul mengingatkan pengalaman buruk pada tahun 2023 tidak boleh terulang.
Saat itu, ungkap dia, produksi turun 5–7 persen akibat kemarau. Jika El Nino tahun ini berlangsung lebih ekstrem, kerugian bisa melonjak hingga 10–15 persen, bahkan berisiko gagal panen total di lahan tadah hujan.
“Jika air tidak cukup, lebih baik tidak memaksakan tanam daripada akhirnya merugi. Kami juga telah menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah sebagai jaring pengaman bagi warga yang paling rentan, sekaligus mencegah lonjakan harga jika pasokan terganggu,” tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

