Kembali Bermain Tanpa Gawai

Kembali Bermain Tanpa Gawai
KAMPUNG DOLANAN: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi meresmikan Kampung Dolanan Sidowayah, Klaten, Jawa Tengah.

INILAH, Jakarta - Tawa anak-anak tak selalu terdengar dari halaman rumah. Sebagian justru muncul dari sudut kamar, sofa ruang tamu, atau tempat lain ketika mata mereka terpaku pada layar.

Gawai memang menawarkan dunia yang serba cepat dan menyenangkan. Anak bisa bermain, menang, dan menentukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Namun, ketika layar menjadi ruang bermain utama, kemampuan anak untuk berinteraksi dengan dunia nyata ikut menghadapi tantangan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengingatkan pentingnya mengembalikan anak-anak pada interaksi fisik dan permainan tradisional yang tumbuh dari kearifan lokal.

Menurut dia, anak membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan diri sekaligus belajar beradaptasi dengan lingkungan dan teman-temannya.

“Anak-anak ini butuh aktualisasi diri. Dengan gawai, mereka selalu merasa menjadi pemenang,” kata Arifah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/8).

Kondisi itu, lanjutnya, dapat membuat anak kesulitan ketika harus berhadapan langsung dengan teman sebaya. Mereka perlu belajar bahwa dalam kehidupan nyata ada proses berbagi, bekerja sama, beradaptasi, termasuk menerima kekalahan.

Pesan tersebut disampaikan Arifah saat meresmikan Kampung Dolanan Sidowayah Bersemi, Kampung Pancasila, dan Ruang Bersama Indonesia Desa Sidowayah, sekaligus Paket Aglomerasi Wisata Klaten, Jawa Tengah.

Kampung Dolanan Sidowayah menawarkan sesuatu yang sederhana, tetapi semakin penting bagi anak-anak hari ini: bermain bersama.

Berbagai permainan tradisional hadir di tempat itu, mulai dari botol bernada, fitrasi air, hingga otok-otok. Sejumlah permainan juga dirancang untuk mengasah kemampuan sains anak. (gin)


Editor : Inilahkoran