Menjemput Penumpang Bandara lewat Pintu Kampus
PESAWAT kembali datang, penumpang belum ramai. Pemkot Bandung menggandeng kampus mencari penumpang baru.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
Bandara Husein Sastranegara belum kembali seramai masa lalu. Pesawat masih datang dan pergi, tetapi jumlah penumpangnya belum mencapai angka yang diharapkan Pemerintah Kota Bandung.
Setiap hari, sekitar 1.000 penumpang tercatat menggunakan bandara tersebut. Angka itu masih jauh dari target awal 3.000 penumpang per hari. Dalam jangka panjang, Pemkot Bandung bahkan membidik kembalinya trafik hingga 2,7 juta penumpang.
Persoalannya bukan semata-mata soal minat bepergian. Harga tiket yang tinggi dan jumlah penerbangan yang masih terbatas ikut menentukan seberapa besar masyarakat memilih Bandara Husein sebagai pintu masuk dan keluar Kota Bandung.
Di tengah kondisi tersebut, Pemkot Bandung mencoba mencari sumber penumpang baru. Salah satu jalurnya justru datang dari dunia pendidikan.
Mulai semester pertama 2027, Pemerintah Kota Bandung berencana mendorong perguruan tinggi di Kota Bandung untuk melakukan promosi ke berbagai daerah yang memiliki konektivitas penerbangan dengan Bandara Husein Sastranegara.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, promosi tersebut diarahkan untuk menarik calon mahasiswa dari berbagai daerah agar memilih Bandung sebagai tempat menempuh pendidikan.
“Semester pertama tahun 2027, kami akan mendorong promosi perguruan tinggi Bandung di luar Kota Bandung yang memiliki destinasi penerbangan dengan Husein,” kata Farhan, Kamis (27/8).
Gagasannya sederhana, tetapi memiliki dua kepentingan sekaligus. Perguruan tinggi mendapatkan calon mahasiswa dari luar daerah, sementara Bandara Husein memperoleh tambahan potensi penumpang.
Kota-kota yang memiliki konektivitas penerbangan dengan Husein akan menjadi sasaran promosi. Calon mahasiswa dari daerah tersebut diharapkan melihat Bandung bukan hanya sebagai kota tujuan pendidikan, tetapi juga sebagai kota yang mudah dijangkau melalui udara.
“Dari kota-kota itu, akan didorong agar para calon mahasiswa putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia lebih mudah aksesnya untuk bisa berkuliah di Kota Bandung di mana terdapat perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik,” ujarnya.
Namun, untuk menghidupkan kembali lalu lintas penerbangan, persoalan harga tiket tetap menjadi pekerjaan rumah.
Farhan mengatakan Pemkot Bandung masih menghitung elastisitas harga tiket pesawat terhadap permintaan penerbangan dari dan menuju Bandung. Artinya, pemerintah ingin mengetahui seberapa besar perubahan harga tiket memengaruhi keinginan masyarakat menggunakan pesawat.
Di sisi lain, ada sinyal pasar penerbangan dari Bandung sebenarnya belum hilang. Berdasarkan data yang diterima Pemkot Bandung dari Garuda Group, tingkat keterisian atau load factor penerbangan yang tersedia masih berada di atas 90 persen.
“Sampai sejauh ini berdasarkan data yang kami terima dari Garuda Group, penerbangan masih sangat tinggi, load factor-nya masih di atas 90 persen,” kata Farhan.
Tingginya keterisian itu menunjukkan bahwa penerbangan yang tersedia masih memiliki pasar. Persoalannya, frekuensi penerbangan belum banyak.
Karena itu, Pemkot Bandung berharap maskapai menambah jumlah penerbangan menuju dan dari Bandara Husein. Tambahan frekuensi diharapkan dapat memperbesar pilihan masyarakat sekaligus membuka peluang pertumbuhan jumlah penumpang.
“Karena jumlah penerbangannya masih sedikit, kita akan mencoba nanti. Tentu saja pihak dari maskapai penerbangan akan mencoba nanti untuk menambah jumlah penerbangan,” ujarnya.
Bagi Husein, tambahan penumpang 2.000 orang per hari bukan perkara kecil. Jika jumlah penumpang harian berhasil mencapai 3.000 orang, aktivitas bandara mulai memasuki skala yang berbeda.
“Sejauh ini karena memang jumlah penerbangan masih belum banyak semuanya baik-baik saja. Everybody happy, kurang lebih ini sehari paling baru seribu penumpang dari target awal kita 3 ribu penumpang,” tutur Farhan.
Target itu kemudian menjadi bagian dari ambisi yang jauh lebih besar. Pemkot Bandung ingin mengembalikan trafik Bandara Husein hingga 2,7 juta penumpang.
Untuk mencapainya, pemerintah tidak hanya bisa menunggu maskapai membuka rute baru. Permintaan penumpang juga harus dibangun. Pendidikan menjadi salah satu pintu yang ingin digunakan.
Bandung selama ini dikenal sebagai salah satu kota pendidikan dengan banyak perguruan tinggi. Jika kampus-kampus mampu menarik mahasiswa dari luar daerah, arus manusia menuju Bandung ikut meningkat. Sebagian dari arus tersebut berpotensi menggunakan transportasi udara.
Dengan cara itu, bandara dan kampus ditempatkan dalam satu ekosistem: kampus mencari mahasiswa, sementara bandara mencari penumpang.
“Kalau demikian, maka kita mempromosikan kemudahan akses melalui penerbangan karena bagaimanapun juga untuk pendidikan kita akan investasi besar,” tegas Farhan. (gin)
Editor : Inilahkoran

