Kemendikdasmen Bantu Pulihkan Trauma Siswa NTT
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah Nusa Tenggara Timur. Namun bagi sebagian anak, rasa takut belum benar-benar pergi. Suara getaran, malam tanpa tidur, dan kekhawatiran akan gempa susulan masih tersimpan dalam ingatan mereka.
Di tengah proses pemulihan itu, sekolah menjadi salah satu ruang untuk kembali menumbuhkan rasa aman. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak hanya memikirkan perbaikan bangunan dan fasilitas pendidikan, tetapi juga berupaya memulihkan kondisi psikologis murid dan guru yang terdampak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pemulihan pascabencana harus menyentuh sisi fisik sekaligus mental. Karena itu, Kemendikdasmen menggandeng berbagai pihak, termasuk Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), organisasi sosial, dan perguruan tinggi.
“Untuk pemulihan mental, ini kan ada dua yang kami lakukan. Pertama, tadi ada teman-teman dari tim HIMPSI yang bekerja sama dengan kami untuk memberikan semangat seperti tadi yang kita lakukan. Anak-anak kita dibuat ceria, gembira,” ujar Mu’ti seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (26/8).
Di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, jejak gempa masih terasa dalam keseharian anak-anak. Berdasarkan rapid assessment KRESNA HIMPSI, sebagian murid masih mengalami kecemasan dan ketakutan, terutama ketika gempa susulan terjadi.
Ketakutan itu muncul dalam bentuk yang sederhana, tetapi cukup dalam. Ada anak yang sulit tidur, takut masuk ke rumah, enggan menutup pintu karena khawatir gempa kembali datang, hingga kesulitan berkonsentrasi saat belajar.
Ketua Divisi Program Kebencanaan KRESNA HIMPSI Yuria Ekalitani mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana tidak selesai ketika getaran berhenti.
“Masih kami jumpai sebagian besar siswa merasa cemas dan takut karena gempa susulan. Beberapa juga menjadi sulit tidur, takut jika masuk ke dalam rumah, tidak mau menutup pintu karena takut ada gempa susulan, sulit konsentrasi, dan beberapa dampak psikologis lainnya,” kata Yuria.
Karena itu, pendampingan kepada anak-anak dilakukan dengan cara yang dekat dengan dunia mereka: bermain. Melalui kegiatan Tenda Gembira, anak-anak diajak kembali tertawa dan beraktivitas dalam suasana yang aman. (gin)
Editor : Inilahkoran

