Ketika Serbuan Monyet Mengancurkan Harapan Petani

Ketika Serbuan Monyet Mengancurkan Harapan Petani
RUSAK: Petani buncis di Desa Pusparaja, Kecamatan Cikalongtang, dibuat resah oleh kemunculan monyet liar yang merusak ladang mereka.

INILAH, Tasikmalaya- Petani buncis di Desa Pusparaja, Kecamatan Cikalongtang, Kabupaten Tasikmalaya, dibuat resah kemunculan monyet liar yang turun dari kawasan pegunungan.

Pagi itu, Senin (21/9), Fajar Rifaldi berjalan menuju ladangnya di Desa Pusparaja, Kecamatan Cikalongtang, Kabupaten Tasikmalaya. Dia hendak melihat tunas-tunas buncisnya tumbuh subur.

Namun, langkah kakinya mendadak terhenti. Di depannya, hamparan lahan yang ia rawat dengan peluh kini berantakan. Bukan karena badai, melainkan akibat serbuan kawanan monyet liar yang turun dari pegunungan.

Satwa-satwa ini terpaksa turun gunung, merambah kebun warga demi bertahan hidup di tengah jeratan musim kemarau yang gersang.

“Monyet-monyet itu menyerang ladang kami, mengacak- acak tanaman buncis yang baru saja tumbuh,” keluh Fajar dengan nada berat, Senin (21/9).

Bagi Fajar, melihat tanaman yang baru mulai bersemi rusak begitu saja adalah pukulan telak. Setidaknya ada sekitar 200 pohon buncis yang hancur dalam sekejap. Tunastunas muda yang sedianya menjadi tumpuan ekonomi itu kini tak lagi berbentuk.

Bagi seorang petani kecil, kehilangan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan modal dan waktu yang menguap sia-sia.

Fajar memperkirakan kerugian materiilnya mencapai Rp2 juta, sebuah nominal yang sangat berarti untuk menyambung napas dapur keluarganya.

Kemarau panjang diduga kuat menjadi pemicu utama konflik antara manusia dan satwa ini. Keringnya hutan di kawasan pegunungan membuat sumber makanan alami para monyet menipis.

Rasa lapar akhirnya menuntun kawanan primata ini keluar dari rumah asli mereka, mendekati permukiman dan mengincar ladang hijau milik warga yang paling dekat dari kaki gunung.

“Sebenarnya bukan karena habitat mereka rusak, tapi ladang kami memang dekat dengan habitat asli mereka di pegunungan.

Kebetulan sekarang sedang kemarau panjang. Sepertinya di atas sana mereka sudah kehabisan makanan, makanya turun ke ladangladang warga,” tutur Fajar Kini, kecemasan menggelayuti hari-hari para petani di Desa Pusparaja. Mereka tidak bisa lagi bertani dengan tenang.

Untuk menyiasati keadaan dan menyelamatkan sisa-sisa harapan yang ada, Fajar dan petani lainnya terpaksa memutar otak dan memperketat ronda di kebun.

“Langkah antisipasi ke depan, kami harus merelakan waktu lebih untuk berjaga.

Terutama di jam-jam rawan saat monyet-monyet itu biasanya keluar mencari makan, seperti saat matahari baru terbit di pagi hari dan menjelang terbenam di sore hari. Penjagaan akan kami intensifkan lagi,” ungkap Fajar.

(nunung nurohman)


Editor : Inilahkoran